REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA– Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indria Samego, mengatakan nasib Koalisi Merah Putih pendukung Prabowo-Hatta bakal tak solid sesudah Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menolak semua gugatan Prabowo-Hatta.
Setelah hakim MK membacakan putusan, sejumlah petinggi Koalisi Mearh Putih menggelar konferensi pers di Hotel Hyatt tanpa dihadiri perwakilan Partai Demokrat. Indria menilai dalam membentuk koalisi dasarnya harus jelas, yakni kesamaan ideologi kesamaan platform.
Menurutnya, di dalam Koalisi Merah Putih tidak terdapat kesamaan ideologi. Sebab ada beberapa partai pendukung Prabowo yang berideologi Islam. Sementara platform atau agenda kerja partai yang ingin membela rakyat dan memajukan bangsa juga tidak terdapat dalam koalisi tersebut.
“Sejak awal konsep koalisi permanen saya katakana tidak mungkin koalisi bisa dipertahankan. Dalam politik tidak ada lawan permanen dan teman permanen, yang ada kepentingan permanen,” kata Indria saat dihubungi Republika, Jumat (22/8).
Menurut Indria, hal yang mengikat dalam koalisi adalah pertemanan. Dia menilai orang-orang di sekitar Prabowo seperti Aburizal Bakrie (ARB) terpaksa merapat ke Prabowo sebab punya masalah dengan PDI Perjuangan. Sementara PKS, meski sudah lama kenal Prabowo, mereka menganggap harus mendukung lawannya Jokowi.
“Dalam konferensi pers kemarin apa yang akan dilakukan kalau tidak menunjukkan bisa bersatu, tapi dalam politik tidak ada yang permanen. Apa yang dibacakan Tantowi Yahya hanya untuk bermuka manis di antara para pendukung,” jelasnya.
Indria menilai Partai Golkar sebagai salah satu pendukung Prabowo-Hatta bakal segera limbung karena konflik internal. Sedangkan Partai Demokrat, SBY telah bersikap netral dan tidak mungkin mendukung Prabowo. Setelah Prabowo dinyatakan kalah, Indria juga mempertanyakan kekuatan Prabowo untuk merangkul partai-partai di Koalisi Merah Putih.