Senin 24 Feb 2014 22:08 WIB

Pedagang Apel Malang Keluhkan Dominasi Apel Impor

Rep: Rr. Laeny Sulistywati/ Red: Bilal Ramadhan
Apel malang kalah bersaing dengan apel impor.
Foto: Rakhmawaty La'lang/Republika
Apel malang kalah bersaing dengan apel impor.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Tak hanya petani buah apel Malang, Jawa Timur (Jatim) yang mengeluhkan dominasi apel impor.  Para pedagang apel Malang di Kota Batu, Jatim juga merasakan hal yang sama. Ketua Himpunan Pedagang Pasar Buah Kota Batu Siti Maryam mengakui, apel yang beredar di pasaran Kota Batu didominasi oleh apel impor dari Cina.

“Apel impor bisa menguasai 70 persen apel yang dijual di Batu,” katanya kepada Republika, Senin (24/2) malam.

Siti menambahkan, dominasi itu terjadi sejak setahun terakhir. Layaknya mendominasi, ia dikalahkan apel Impor. Dia menyebutkan, ada beberapa masalah mengapa apel impor lebih diminati pembeli daripada apel asli Malang.

Pertama, harga apel impor bersaing dengan apel lokal Malang  yaitu Rp 15.000 per kilogram (kg), sedangkan apel Malang dipatok dengan harga yang sama. Selain itu, kata Siti, ukuran apel impor lebih menarik dan lebih besar. Kemasan apel Malang dinilainya juga kalah bagus dibandingkan apel impor.

“Apel Malang juga semakin terpuruk karena terkena abu vulkanik hasil erupsi Gunung kelud beberapa waktu lalu, sehingga apelnya jelek-jelek,” ujarnya.

Ini tentu menjadi masalah buatnya karena ia hanya menjual apel Malang. Padahal, kata Siti, apel Malang memiliki rasa yang lebih enak dibandingkan apel impor. Namun karena kalah bersaing, tak jarang petani apel Malang yang kalah bersaing harus gulung tikar dan beralih profesi menanam tanaman lain.

Dia menyebutkan, hampir separuh petani Apel Malang di Batu beralih dan mengganti tanaman apel milik mereka menjadi tanaman lain seperti tebu, jagung, dan jeruk.  Keluhan itu benar-benar dirasakannya karena suaminya adalah petani apel.

Dia mengeluhkan, akibat banyak petani apel yang beralih menanam buah, ia harus mengambil suplai apel sampai ke  Nongkojajar, Kota Malang, Jatim. Padahal, sebelumnya ia mendapatkan suplai apel dari daerah dekat Batu, seperti Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.

Karena jarak pengambilan suplai apel yang lebih jauh, pihaknya harus merogoh uang lebih banyak untuk ongkos transportasi. Untuk itu, ia berharap apel impor segera disetop, sama seperti kebijakan pemerintah yang menghentikan impor buah di era tahun 2013 lalu. Namun sayangnya kebijakan itu tak bertahan lama.

“Selain itu kami harap pemerintah mempermudah penunjang pertanian  seperti subsidi pupuk dan boleh membeli buah di beda kota seperti Kota Batu dan Kabupaten Malang,” ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement