Rabu 04 Dec 2013 18:29 WIB

Akademisi: Indonesia Harus Evaluasi Selama Ikut WTO

Simbol World Trade Organization (WTO)
Foto: snus-news.blogspot.com
Simbol World Trade Organization (WTO)

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Pengamat hubungan internasional Universitas Udayana (Unud) Denpasar I Made Anom Wiranata SIP, Ma, mengatakan Indonesia harus mengevaluasi selama ikut serta dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

"Indonesia harus melakukan evaluasi selama 18 tahun ikut serta dalam WTO. Sejauh mana manfaatnya dan sejauh mana kerugian yang didapatkan selama ini," ujarnya di Denpasar, Rabu (4/12).

Secara umum, dalam perdagangan bebas sebenarnya yang paling diuntungkan adalah negara maju, sedangkan negara miskin dan berkembang tidak akan mampu menyaingi daya saing produksi negara maju tersebut.

"Dapat dibayangkan produksi negara berkembang dan negara miskin dalam perdagangan bebas pasti akan tersisihkan oleh produksi negara maju yang kualitasnya sangat bagus," ujarnya.

Dengan demikian, yang mendapat keuntungan dalam perdagangan bebas itu adalah negara maju dan pengusaha yang memiliki modal dan mengembangkan bisnisnya di negara-negara anggota WTO. Sedangkan, rakyat kecil dan industri kecil akan semakin tersisihkan. Oleh karena itu, pemerintah harus melakukan evaluasi selama ikut serta dalam WTO.

Sementara itu, Ketua DPR Marzuki Alie meminta WTO untuk menghilangkan kesenjangan ekonomi antara negara maju dengan negara berkembang dan negara miskin sebagai dampak dari perjanjian perdagangan internasional.

"Indonesia bersama negara miskin dan berkembang lainnya harus bisa memperjuangkan kedaulatan pangan untuk menghilangkan kesenjangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyatnya," katanya.

Menurut dia, kedaulatan pangan dapat menjamin hubungan perdagangan multilateral. "Oleh sebab itu, WTO harus mampu menjaga keseimbangan. Jangan sampai hubungan perdagangan antarnegara menyebabkan defisit dan merugikan negara lain," ujar Wakil Ketua Dewan Penasihat DPP Partai Demokrat itu.

Marzuki mengingatkan bahwa hubungan perdagangan yang baik adalah saling menguntungkan antarnegara. Ia juga menceritakan pengalamannya bertemu dengan Perdana Menteri Cina untuk membicarakan neraca perdagangan RI-Cina. "Selama ini perdagangan kita dengan Cina defisit terus. Cina memberikan solusi untuk membantu Indonesia agar perdagangannya tidak defisit terus," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement