Ahad 27 Nov 2011 01:54 WIB

Rendah, Indeks Manusia Indonesia Hanya di Peringkat 124 Dunia

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG - Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada pada level 0,617 pada tahun 2011 dengan posisi peringkat pada nomer 124 dari 187 negara di dunia. "IPM Indonesia tahun lalu berada pada level 0,613, tapi tahun ini meningkat tipis pada level 0,617," kata Staf Ahli Menkokesra Bidang Kreativitas dan Inovasi Teknologi, Dr H TB Rahmad Sentika, ketika berbicara dalam seminar kependudukan di Padang, Sabtu (26/11).

Menurut salah seorang angggota Tim Ahli Komisi Perlindungan Anak Indonesia itu, jika dibandingkan dengan lima negara besar di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), maka kualitas manusia di Indonesia berada di posisi bawah.

"IPM Indonesia hanya unggul jika dibandingkan Vietnam yang memiliki nilai IPM 0,593, atau Laos dengan nilai 0,524, Kamboja 0,523, dan Myanmar dengan nilai IPM 0,483," katanya. Ia menambahkan, negara Singapura menduduki peringkat pertama di kawasan Asean untuk kualitas manusia dengan nilai IPM 0,866.

"Selanjutnya IPM Brunei Darussalam dengan nilai 0,838, disusul Malaysia dengan IPM 0,761, Thailand dengan nilai 0,682, dan Filipina dengan nilai 0,644," katanya. Dia mengatakan, IPM itu mengukur pencapaian pembangunan manusia pada suatu negara dalam tiga dimensi dasar yang tercermin dalam taraf pendidikan, kesehatan, serta kemampuan daya beli.

"Untuk indeks pendapatan 0,518, dan untuk indeks kesehatan 0,584, sektor pendidikan memberikan kontribusi sebanyak 0,584," katanya.

Menurut dia, ada sedikit perbedaan dalam perhitungan indeks pendidikan Indonesia antara UNDP dan Kemdikbud. "Perhitungan sektor pendidikan versi UNDP menggunakan rata-rata lama sekolah 5,8 tahun diukur dari penduduk berusia 25 tahun ke atas, sedangkan Kemdikbud menggunakan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu 7,9 tahun dan diukur dari penduduk berusia di atas 15 tahun," katanya.

UNDP ada perubahan, karena menggunakan variabel tidak di 15 tahun, tetapi di 25 tahun. "Yang (diukur) sudah berkeluarga dan bekerja, sehingga pendidikan dasar dan menengah menjadi tidak dihitung," katanya.

Dia menambahkan, upaya yang dilakukan untuk meningkatkan waktu rata-rata lama sekolah adalah dengan meningkatkan akses dan mutu pendidikan anak usia dini (PAUD), meningkatkan partisipasi sekolah jenjang pendidikan dasar yang bermutu.

"Juga, perlu meningkatkan akses dan mutu pendidikan menengah, meningkatkan akses dan daya saing pendidikan tinggi, serta meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement