REPUBLIKA.CO.ID, SAN FRANCISCO – Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, pemerintah akan terus menggencarkan debottle necking (membuka penyempitan) dan debirokrasi. “Agar kita tak kehilangan momentum,” katanya kepada wartawan usai menerima Public Policy Award dari Asia Society, Selasa (8/11) malam di San Francisco, Amerika Serikat, atau Rabu (9/11) WIB.
Seperti dilaporkan wartawan Republika Nasihin Masha, dalam acara yang digelar di Hotel Palace itu, Hatta menerima award dari Asia Society, organisasi nirlaba di Amerika Serikat. Acara itu dihadiri para pengusaha, akademisi, tokoh budaya, duta besar, dan pejabat pemerintah AS.
Acara bertajuk Indonesia Celebration Dinner ini diselenggarakan atas kerja sama KBRI, Usindo, dan Asia Society. Acara itu dimeriahkan tarian tradisional dan pergelaran batik Indonesia. Siang harinya, Hatta mengunjungi dan bertemu pemilik sekaligus CEO Marvel, sebuah perubahan chip di Silicon Valley, yang warga AS kelahiran Indonesia, Sehat Sutardja.
Hatta mengatakan, ada empat hal yang membuat Indonesia optimis. Pertama, demografi penduduk yang luar biasa. Ini ditandai dengan usia produktif yang mendominasi struktur demografi Indonesia. Momentum ini hanya terjadi hingga 25 tahun ke depan. “Jika kita tak bisa memanfaatkannya maka momentum ini hilang,” katanya.
Kedua, sumberdaya alam yang berlimpah. Namun, hal ini belum digarap dengan baik. Saat ini ekonomi Indonesia masih efficiency driven economy, namun ke depan harus innovation driven economy.
Ketiga, Indonesia mendapat kepercayaan dunia yang luar biasa. Di tengah ekonomi global yang kurang baik, Indonesia justru tumbuh stabil sehingga arus dana masuk dengan sendirinya. Untuk itu Indonesia harus membangun iklim investasi, memperbaiki good governance, membangun daya saing, dan membangun infrastruktur.
Keempat, Indonesia adalah negara plural demokratis. Negara-negara lain dipaksa untuk demokrasi, seperti di Arab, sedangkan Indonesia tak dipaksa negara lain. “Ini kekuatan kita,” ujarnya.
Semua keunggulan ini harus bisa mengakselerasi Indonesia. “Jika kita gagal, ini akan membebani generasi generasi mendatang,” ujarnya.
Untuk itu, lanjut Hatta, ada sejumlah langkah untuk bisa memanfaatkan momentum tersebut, salah satunya dengan melakukan debottle necking dan debirokrasi. “Masalah governance dan birokrasi merupakan hal yang super serius,” katanya.
Selain itu juga harus ada harmonisasi antara pusat dan daerah, capacity building pemerintah daerah, dan seterusnya. “Top list-nya adalah kepastian, kemudahan, dan konsistensi hukum,” katanya. Sedangkan masalah tax hollyday dan semacamnya menempati urutan berikutnya.
Hatta mengatakan, nilai buku Indonesia selalu berada di bawah kenyataannya. “Under value. Indonesia ini maju tapi orang tidak tahu,” katanya. Sebagai bukti adalah Indonesia tak pernah ngemplang utang, fundamental ekonomi juga bagus dan tidak bubble. Selain itu, indeks gini rasio juga lebih bagus daripada Cina dan India. “Memang ada gap, tapi yang penting harus ada perlindungan dan upaya pemerataan. Jadilah bangsa yang optimis,” katanya.