REPUBLIKA.CO.ID, IPW: JAKARTA – Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk segera mencopot Kepala Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya dari jabatannya.
Hal ini terkait insiden kembang api dan petasan di Gelora Bung Karno (GBK), Selasa (6/9) lalu. "Insiden ini menujukkan betapa ceroboh dan teledornya jajaran Polda Metro Jaya," ujar Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, Jumat (9/9).
Menurutnya, sangat tidak lazim terjadi beberapa kali ledakan petasan dalam pertandingan sepakbola sekelas kualifikasi Piala Dunia. Neta juga berpendapat agar Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), untuk meminta pertanggung jawaban Polri, khususnya Polda Metro Jaya atas insiden tersebut.
Selain Kapolda Metro Jaya, ia juga mendesak Polri untuk mengevaluasi kinerja Kapolres Jakarta Pusat dan Kepala Biro Operasional Polda Metro Jaya. "Ketiganya paling bertanggung jawab dalam kasus ini," tegasnya.
Bahkan Neta mendesak ketiganya harus dicopot dari jabatannya. Jika tidak ada sanksi tegas, bukan mustahil kinerja kepolisian di ibu kota akan terus mengendur. Insiden pada pertandingan Indonesia melawan Bahrain itu sangat memalukan Indonesia. Terlebih kepala negara menyaksikan langsung laga internasional itu.
Menanggapi pernyataan IPW tersebut, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Baharudin Djafar, mengatakan setiap orang boleh saja mengeluarkan pendapatnya. "Negara ini telah menjamin kebebasan berpendapat dan dilindungi Undang-Undang. Pendapat pribadi itu menjadi hak," katanya.
Mengenai insiden dalam laga tersebut, Baharudin mengatakan petugas kepolisian sudah melaksanakan pengamanan sesuai aturan. Namun ia tidak menyangkal telah terjadinya kebocoran sehingga penonton bisa membawa kembang api ke dalam stadion. Menurutnya, hal itu jadi bahan evaluasi polisi maupun pihak penyelenggara. "Kalau ada kurang kita betulkan," kata dia.
Dari penelusuran IPW, Neta menjelaskan pertandingan tim nasional diamankan oleh sekitar 2.100 personel Polda Metro Jaya. Polisi menerapkan tiga ring untuk melakukan pengawasan. "Namun ironis, baik petasan, kembang api maupun botol mineral masih bisa lolos ke dalam stadion," sesalnya.