Rabu 26 Jan 2022 17:26 WIB

Pembangunan Tol Yogyakarta-Bawen Masih Proses Pendataan

Setelah pendataan, baru menginjak sosialisasi penentuan lokasi oleh gubernur Jateng.

Rep: S Bowo Pribadi/ Red: Bilal Ramadhan
Rumah warga dibongkar secara mandiri karena terkena proyek Tol Solo - Yogyakarta di Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Kamis (30/12). Konstruksi pembangunan Jalan Tol Solo - Yogyakarta  sepanjang 96,57 kilometer sudah dimulai.Seksi I yang menghubungkan wilayah Kartosuro - Purwomartani sepanjang 42,37 km saat ini sedang dalam tahap konstruksi, dengan progres fisik 2,07 persenn. Selanjutnya untuk Seksi II Purwomartani - Gamping sepanjang 23,43 km dan Seksi III Gamping - Purworejo sepanjang 30,77 masih dalam tahap persiapan pekerjaan fisik dengan target selesai 2024.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Rumah warga dibongkar secara mandiri karena terkena proyek Tol Solo - Yogyakarta di Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Kamis (30/12). Konstruksi pembangunan Jalan Tol Solo - Yogyakarta sepanjang 96,57 kilometer sudah dimulai.Seksi I yang menghubungkan wilayah Kartosuro - Purwomartani sepanjang 42,37 km saat ini sedang dalam tahap konstruksi, dengan progres fisik 2,07 persenn. Selanjutnya untuk Seksi II Purwomartani - Gamping sepanjang 23,43 km dan Seksi III Gamping - Purworejo sepanjang 30,77 masih dalam tahap persiapan pekerjaan fisik dengan target selesai 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN — Berbagai tahapan menuju proses pembangunan jalan tol ruas Yogyakarta- Bawen terus berlanjut, di wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Hingga tahapan yang telah berjalan ini tidak terusik oleh isu harga tanah yang dikabarkan naik tak terkendali.

“Untuk wilayah Kabupaten Semarang sampai sekarang tidak ada indikasi tersebut,” ungkap Kasubag Pertanahan Bagian Tata Pemerintahan, Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Semarang, Zaenal Arifin.

Baca Juga

Ia menjelaskan, di Kabupaten Semarang saat ini prosesnya baru sampai pada tahap pendataan, yakni menginventarisasi semua calon tanah yang terkena proyek jalan tol Yogyakarta-Bawen tersebut.

“Misalnya bidang tanah A tersebut hak milik siapa, lalu perkiraan luasnya berapa dan seterusnya,” jelas Zaenal, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon. 

Setelah tahapan pendataan ini, lanjutnya, baru menginjak pada sosialisasi penentuan lokasi (penlok) oleh Gubernur Jawa Tengah. Setelah itu baru dilakukan sosialisasi kepada masyarakat.

“Jadi penlok oleh gubernur sampai hari ini memang belum. Karena kalau penlok harus menyiapkan siapa yang terkena, obyeknya berapa harus lengkap terlebih dulu,” tambahnya.

Terkait dengan isu harga tanah yang mendadak melonjak tak terkendali,  Zaenal menyampaikan sampai saat ini tidak ada tanda-tanda tersebut. Artinya untuk wilayah Kabupaten Semarang masih masih tenang.

Sehingga tidak ada tanah yang kemudian tiba-tiba harganya melambung tinggi. Setidaknya hal itu dapat diketahui dari pembebasan jalan nasional yang dilakukan atau pembebasan tanah untuk proyek yang lain.

“Sejauh ini kami melihat harganya relatif masih normal dan tidak ada yang kemudian harganya tiba-tiba naik atau melonjak,” tambahnya.

Terkait dengan target tahapan yang sudah berjalan, Zaenal menjelaskan, sebenarnya proyek jalan tol ini dibalik. Awalnya memang rencananya ruas Semarang-Bawen-Yogyakarta.

Namun sekarang ruas Yogyakarta-Bawen, karena proses pengerjaannya dimulai dari ruas Yogyakarta-Sleman yang dikerjakan oleh PT TMJ. Setelah itu baru berlanjut ke Magelang hingga Bawen.

“Kalau target sebenarnya, bulan Agustus-September 2022 ini sudah ada pembayaran untuk tanah yang terkena proyek tol tersebut. Tapi untuk saat ini tahapan penentuan lokasi pun belum dimulai,” tegasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement