Senin 28 Sep 2026 16:49 WIB

Unida Jalin Kerja Sama Pendidikan dan Riset dengan Kampus Uzbekistan

Kerja sama Unida dan kampus Uzbekistan mencakup riset bersama.

Delegasi Unida berfoto bersama jajaran Tashkent University of Human Sciences setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerja sama akademik di Tashkent, Uzbekistan.
Foto: Unida
Delegasi Unida berfoto bersama jajaran Tashkent University of Human Sciences setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerja sama akademik di Tashkent, Uzbekistan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Universitas Djuanda (Unida) menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Tashkent University of Human Sciences dan University of Exact and Social Sciences di Uzbekistan. Pada hari yang sama, tiga akademisi Unida menjadi dosen tamu di Tashkent State University of Law (TSUL), Kamis (24/9/2026). Dua MoU tersebut mencakup kerja sama pendidikan, penelitian, publikasi, mobilitas mahasiswa dan dosen, serta konferensi internasional. Sementara itu, kegiatan di TSUL membahas hukum, bimbingan dan konseling, serta pengembangan budaya mutu pendidikan tinggi.

Kunjungan ke Tashkent University of Human Sciences menjadi agenda pertama delegasi Unida. Delegasi diterima Rektor Sabirov Qaxramon Bektursun o'g'li bersama jajaran wakil rektor dan Kepala Kantor Internasional.

Baca Juga

Kerja sama kedua perguruan tinggi mencakup konferensi internasional, student mobility, visiting lectures, student exchange, serta penelitian dan publikasi bersama.

Chancellor Unida Martin Roestamy mengatakan, kerja sama tersebut perlu diarahkan pada program yang konkret dan berkelanjutan. "Kerja sama ini diharapkan menjadi jembatan bagi Unida dan Tashkent University of Human Sciences untuk mengembangkan berbagai kolaborasi akademik yang lebih konkret dan berkelanjutan. Kami ingin membuka semakin banyak kesempatan bagi mahasiswa dan dosen untuk belajar, bertukar gagasan, melakukan penelitian, dan membangun jejaring akademik dalam lingkup global," katanya dalam siaran pers, Senin (28/9/2026).

Delegasi kemudian mengunjungi University of Exact and Social Sciences dan bertemu Rektor Batirov Golibjon Isroilovich bersama jajaran wakil rektor serta Ganieva Aziza Zayniddin kizi, Head of the Department for Organization of International Cooperation, beserta tim.

MoU dengan University of Exact and Social Sciences mencakup konferensi internasional, student mobility, visiting lectures, student exchange, serta penelitian dan publikasi bersama.

Rektor Unida Siti Pupu Fauziah mengatakan kerja sama tersebut memberi ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk mengikuti program akademik lintas negara. "Kerja sama ini memberikan ruang yang luas bagi sivitas akademika Unida untuk terlibat dalam berbagai program internasional, mulai dari student mobility, student exchange, visiting lectures, hingga kolaborasi penelitian dan publikasi. Kami berharap kerja sama ini dapat berkembang menjadi program yang berkelanjutan dan memberikan pengalaman akademik yang semakin luas bagi mahasiswa dan dosen," ungkapnya.

Selain penandatanganan MoU, tiga akademisi Unida menjadi dosen tamu di TSUL. Martin Roestamy, Siti Pupu Fauziah, dan Zahra Khusnul Lathifah menyampaikan materi sesuai bidang masing-masing.

Martin Roestamy membawakan materi "Filsafat Hukum Pancasila: Perbandingan Antara Ideologi Indonesia dan Uzbekistan". Materi tersebut membahas perbedaan dan persamaan landasan nilai Indonesia dan Uzbekistan serta kaitannya dengan pembentukan sistem hukum dan kehidupan bernegara.

Siti Pupu Fauziah membawakan materi "Strategi Bimbingan dan Konseling bagi Remaja Berbasis Perbedaan Kultur Budaya dan Akar Peradaban di Indonesia". Materi tersebut membahas pengaruh latar budaya, nilai sosial, kebiasaan, dan lingkungan terhadap pendekatan bimbingan dan konseling bagi remaja.

"Perspektif mengenai praktik bimbingan dan konseling di Indonesia kami hadirkan sebagai bagian dari pengayaan wawasan akademik bagi mahasiswa di Uzbekistan. Melalui pertukaran pengetahuan seperti ini, mahasiswa dapat memperoleh gambaran mengenai bagaimana pendekatan bimbingan dan konseling dikembangkan dengan mempertimbangkan konteks budaya dan lingkungan sosial," jelasnya.

Zahra Khusnul Lathifah membawakan materi "Membangun Budaya Mutu Pendidikan di Perguruan Tinggi Berbasis Keanekaragaman". Materi tersebut membahas tata kelola, kualitas pembelajaran, pengembangan sumber daya manusia, serta evaluasi dan perbaikan mutu pendidikan tinggi.

"Budaya mutu perlu tumbuh sebagai bagian dari kehidupan akademik, bukan hanya sebagai pemenuhan administratif. Perguruan tinggi perlu membangun komitmen bersama untuk menjaga kualitas melalui tata kelola yang baik, pembelajaran yang berkualitas, pengembangan sumber daya manusia, serta evaluasi dan perbaikan yang dilakukan secara berkelanjutan," tuturnya.

Rangkaian kegiatan di Uzbekistan mempertemukan kerja sama kelembagaan dengan aktivitas akademik. Dua MoU membuka ruang untuk program pendidikan, penelitian, publikasi, mobilitas mahasiswa dan dosen, serta konferensi internasional, sementara kegiatan dosen tamu menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara akademisi Indonesia dan Uzbekistan.

Berita Lainnya

Rekomendasi