Jumat 25 Sep 2026 14:00 WIB

LAMEMBA Luncurkan Akreditasi Internasional untuk Kampus Ekonomi dan Bisnis

Pendidikan tinggi perlu menyesuaikan standar dengan lingkungan global.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Satria K Yudha
Ketua Dewan Kehormatan LAMEMBA Perry Warjiyo memberikan sambutan secara daring dalam acara peluncuran LAMEMBA International Accreditation (LIA) pada Selasa, (22/9/2026).
Foto: LAMEMBA
Ketua Dewan Kehormatan LAMEMBA Perry Warjiyo memberikan sambutan secara daring dalam acara peluncuran LAMEMBA International Accreditation (LIA) pada Selasa, (22/9/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi (LAMEMBA) meluncurkan LAMEMBA International Accreditation (LIA) untuk sekolah atau fakultas di bidang ekonomi, manajemen, bisnis, dan akuntansi. Skema tersebut memperluas cakupan penjaminan mutu pendidikan tinggi yang dilakukan LAMEMBA ke tingkat internasional.

Peluncuran LIA berlangsung secara daring pada Selasa (22/9/2026) dengan tema Strengthening Higher Education: Quality Assurance and Global Competitiveness. Skema ini dikembangkan di tengah meningkatnya mobilitas mahasiswa, kerja sama akademik lintas negara, serta penelitian yang melibatkan berbagai negara.

Baca Juga

Ketua Dewan Eksekutif LAMEMBA Ina Primiana mengatakan, perkembangan pendidikan tinggi membuat penjaminan mutu tidak lagi hanya dilihat dalam konteks nasional.

“Melalui pengalaman kami, kami belajar satu hal penting: mutu tidak mengenal batas. Perguruan tinggi kita mendidik mahasiswa yang akan bekerja di lingkungan global, dosen kita berkolaborasi lintas negara, dan riset kita menjawab tantangan yang melampaui batas nasional,” ujar Ina dalam pernyataannya, Kamis (24/9/2026).

Menurut Ina, LIA tidak hanya ditujukan untuk memperluas keberadaan LAMEMBA di luar Indonesia. Skema tersebut juga menjadi ruang bagi LAMEMBA untuk berbagi pengalaman dan mempelajari praktik penjaminan mutu dari komunitas internasional.

Perguruan tinggi yang mengikuti LIA juga berpeluang membangun jejaring dengan institusi lain dalam komunitas akreditasi tersebut.

“Bagi kampus-kampus yang sudah diakreditasi oleh LAMEMBA International Accreditation, itu pastinya akan terhubung. Jadi mereka sudah saling percaya, sehingga mereka nanti bisa bersinergi dan berkolaborasi untuk kualitas pendidikan tinggi yang lebih baik,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, LIA menggunakan tiga pendekatan, yakni Mission and Vision-Based Approach, Outcome and Impact-Based Evaluation, serta Process-Based and Continuous Improvement. Ketiganya mencakup penilaian terhadap konteks dan visi institusi, capaian serta dampak program studi, dan proses peningkatan mutu secara berkelanjutan.

Pengembangan LIA juga mengacu pada pengalaman LAMEMBA dalam penjaminan mutu internasional. LAMEMBA memperoleh alignment dengan 2022 International Standards and Guidelines for Quality Assurance in Tertiary Education (ISGs) dari International Network for Quality Assurance Agencies in Higher Education (INQAAHE) setelah melalui peninjauan pada 26 September 2025.

Keselarasan tersebut mencakup enam aspek, yakni legitimasi kelembagaan, kerangka peninjauan eksternal, mekanisme pengambilan keputusan dan banding, internasionalisasi, integritas dan transparansi, serta keterlibatan pemangku kepentingan. Keselarasan tersebut berlaku selama lima tahun.

Ketua Dewan Kehormatan LAMEMBA Perry Warjiyo mengatakan, penguatan kualitas dan daya saing pendidikan tinggi penting di tengah perubahan lingkungan pendidikan tinggi global. Pengembangan akreditasi internasional menjadi salah satu langkah untuk memperluas kontribusi penjaminan mutu pendidikan tinggi Indonesia.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto yang menjadi keynote speaker dalam acara tersebut menyampaikan paparan bertajuk “Strengthening Higher Education: Quality Assurance and Global Competitiveness”. Paparan tersebut membahas peran penjaminan mutu dalam mendukung daya saing pendidikan tinggi Indonesia di tingkat global.

Sementara itu, Distinguished Professor National Chengchi University, Taiwan, Angela Yung-Chi Hou, menyampaikan paparan mengenai pendekatan lembaga penjaminan mutu di Asia dalam mengukur kualitas pendidikan tinggi. Angela sebelumnya pernah menjabat sebagai Vice President INQAAHE dan Asia-Pacific Quality Network (APQN) serta CEO HEEACT.

Dalam rangkaian peluncuran tersebut, LAMEMBA juga membuka keanggotaan tanpa biaya hingga September 2027. Informasi mengenai skema LIA dan keanggotaan tersedia melalui kanal resmi LAMEMBA.

Melalui LIA, LAMEMBA memperluas interaksi dengan komunitas penjaminan mutu internasional sekaligus membuka ruang bagi perguruan tinggi Indonesia untuk terhubung dengan institusi pendidikan tinggi dari negara lain.

Berita Lainnya

Rekomendasi