Selasa 08 Sep 2026 05:23 WIB

Bandara Soekarno-Hatta Kembali Beroperasi Selasa Dini Hari

Dinamika aktivitas vulkanis Anak Krakatau masih tinggi.

Calon penumpang mengantre saat melakukan proses pembatalan tiket atau refund di Terminal 2 keberangkatan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Ahad (6/9/2026).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Calon penumpang mengantre saat melakukan proses pembatalan tiket atau refund di Terminal 2 keberangkatan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Ahad (6/9/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Bandara Wilayah I Kelas Utama Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengumumkan Bandara Soekarno-Hatta telah kembali beroperasi pada Selasa (8/9/2026). Dua bandara lain yang juga diizinkan beroperasi adalah Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Husein Sastranegara. 

Berdampak informasi dari akun Instagram Otoritas Bandara Wilayah I Kelas Utama (@otbansatu), tiga bandara itu telah kembali beroperasi pada Selasa pukul 00.00 WIB. Otoritas juga mengimbau pengguna jasa penerbangan untuk memeriksa status dan mengkonfirmasi jadwal penerbangan anda melalui kanal resmi maskapai sebelum menuju bandara.

Baca Juga

"Kami informasikan bahwa tiga bandar udara terdampak telah kembali beroperasi dan kegiatan penerbangan dapat dilaksanakan kembali sesuai dengan kondisi operasional dan ketentuan yang berlaku," tulis akun Otoritas Bandara Wilayah I Kelas Utama, Selasa dini hari.

Sementara itu, akun Instagram Bandara Soekarno-Hatta (@soekarnohattaairport) menyatakan, operasional penerbangan telah kembali dilayani pada Selasa dini hari. Para pengguna jasa diminta mengecek kembali status dan jadwal penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum melakukan perjalanan.

"Sehubungan dengan kondisi Erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini, Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali melayani operasional penerbangan," tulis akun Instagram Bandara Soekarno-Hatta. 

Operator Bandara Soekarno-Hatta juga meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi selama dua hari terakhir. Operator juga berterima kasih atas perhatian, pengertian, dan kerja sama seluruh pengguna jasa Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

photo
Calon penumpang pesawat memfoto jadwal penerbangan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (7/9/2026). - (Republika/Prayogi)

Diketahui, ketiga bandara itu ditutup karena terdampak sebaran abu vulkanis erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Ahad (6/9/2026). Akibatnya, ketiga bandara itu tidak bisa melayani penerbangan pesawat terbang.

Sebelum kembali beroperasi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melakukan tes abu vulkanis atau paper test di sejumlah bandara, salah satunya Bandara Soekarno-Hatta. Tes yang dilakukan di Bandara Soekarno-Hatta pada Senin pukul 13.30-14.00 WIB menunjukkan hasil negatif, dengan keterangan abu di paper test terlihat dan tidak terasa ketika diraba dengan tangan.

Berdasarkan informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi menerus Gunung Anak Krakatau telah berakhir pada Ahad dini hari. Meski begitu, saat ini gunung yang berada di kawasan Selat Sunda itu masih mengalami erupsi strombolian. 

Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati mengatakan, episode erupsi menerus itu terjadi sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB. Rentetan erupsi tersebut dilaporkan terjadi hingga Ahad pukul 00.04 WIB. Artinya, erupsi menerus Gunung Anak Krakatau terjadi selama 25 jam. 

"Episode erupsi menerus yang berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB telah berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, setelah berlangsung sekitar 25 jam," kata dia melalui keterangannya, Senin.

photo
Calon penumpang mengenakan masker saat melakukan proses pembatalan tiket atau refund di Terminal 2 keberangkatan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Ahad (6/9/2026). - (Republika/Thoudy Badai)

Menurut dia, erupsi menerus tersebut telah berakhir. Namun, Gunung Anak Krakatau saat ini masih mengalami erupsi strombolian, yang merupakan karakteristik gunung berapi tersebut.

Berdasarkan perkembangan hingga Senin pukul 06.00 WIB, pada periode 6-7 September 2026 teramati erupsi strombolian dengan kolom erupsi berwarna hitam setinggi maksimum 300 meter di atas puncak. Secara instrumental terekam tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa frekuensi rendah, 98 kali gempa hybrid/fase banyak, serta kegempaan vulkanis lainnya.

Ia menilai, energi aktivitas vulkanis berdasarkan nilai RSAM sempat meningkat pada 5 September 2026, kemudian menurun kembali pada 6 September 2026. Data deformasi belum menunjukkan perubahan signifikan yang mengindikasikan peningkatan tekanan secara cepat.

"Berakhirnya erupsi menerus dan kembalinya pola erupsi strombolian untuk sementara diinterpretasikan sebagai berakhirnya satu episode erupsi menerus," ujar Siti.

Kendati demikian, dinamika aktivitas vulkanis masih tinggi. Alhasil, kemungkinan terjadinya erupsi kembali dalam waktu dekat masih tetap ada.

"Potensi bahaya utama berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat, awan panas, serta aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi," kata dia.

Berita Lainnya

Rekomendasi