REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemulihan warga terdampak gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan logistik, tetapi juga kondisi psikologis setelah bencana. Sejumlah relawan melakukan pendampingan dan kegiatan bersama anak-anak serta warga di pengungsian untuk membantu mereka kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Ketua Umum Pendekar 08 Ancilla Yanny Irmella mengatakan, relawan datang untuk membantu masyarakat yang masih menghadapi dampak bencana. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan pendampingan dan koordinasi bersama jajaran TNI.
“Kami dari Pendekar 08 datang ke sini memang untuk membantu masyarakat yang terkena bencana ya. Dan saya juga mengucapkan terima kasih kepada Kodim 1612, di mana dari mulai persiapan sampai dengan hari ini dari Kodim selalu ada pendampingan,” ujar Ancilla, Rabu (2/9/2026).
Aksi Pendekar 08 memasuki hari kedua pada Rabu (2/9/2026). Selain menyalurkan bantuan, relawan mengadakan kegiatan bermain, belajar, dan berinteraksi dengan anak-anak di lokasi pengungsian.
Bantuan yang dibawa antara lain sekitar 1.000 paket beras dengan total 5 ton, ratusan dus kebutuhan pangan dan air mineral, perlengkapan keluarga dan anak-anak, perlengkapan ibadah dan sekolah, serta peralatan kebersihan dan memasak.
Komandan Kodim 1612/Manggarai Letkol Amos Comenius Silaban mengatakan, sekitar 600 warga masih bertahan di posko terpadu pada hari ke-16 setelah gempa. Sebagian besar merupakan warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat atau runtuh sehingga belum dapat kembali.
“Saat ini posko ini dihuni oleh lebih kurang 600 pengungsi, dimana pengungsi-pengungsi yang ada di sini awalnya lebih dari 1000 tapi karena memang sudah ke hari ke-16 banyak masyarakat yang sudah kembali dan beraktivitas di rumah sehingga tinggal di sini hanya masyarakat yang berdampak langsung rumahnya runtuh,” ujar Silaban.
Selain kebutuhan dasar, pemulihan kondisi psikologis menjadi kebutuhan selama warga masih berada di pengungsian. Kegiatan trauma healing terutama dilakukan untuk membantu anak-anak yang masih mengalami ketakutan setelah gempa.
“Saat ini yang dibutuhkan masyarakat selain logistik juga menghilangkan trauma akibat bencana yang terjadi. Maka disana dibutuhkan trauma healing dan juga kebutuhan-kebutuhan dapur sehingga dapat mengisi kegiatan atau mengisi makan baik pagi, siang dan malam,” tutur Silaban.
Anggota tim Biro Psikologi Ruang Sonya Bagung mengatakan, kondisi psikologis sebagian anak dan orang tua masih terganggu pada beberapa pekan awal setelah gempa. Anak-anak, antara lain, masih takut melihat rumah dan kembali bersekolah.
“Setelah kami menemui anak-anak dan bapak ibu yang ada di posko ini, kami asesmen awal keadaannya dan bagaimana situasi mereka pada minggu-minggu awal merasa trauma untuk anak-anak takut untuk lihat rumahnya masing-masing, untuk sekolah juga mereka takut begitu juga dengan bapak ibu disini mereka psikis mereka sangat terganggu,” ujar Sonya.
Pendampingan dilakukan melalui aktivitas bermain dan berinteraksi agar anak-anak memiliki ruang untuk kembali melakukan kegiatan yang menyerupai rutinitas sehari-hari. Masyarakat juga mendapat edukasi mengenai langkah yang perlu dilakukan ketika terjadi gempa susulan.
Menurut Sonya, keberadaan relawan turut membantu anak-anak dan orang tua menghadapi kondisi selama berada di pengungsian.
“Tentu saja dampaknya sangat berpanggung dan sangat luar biasa untuk kita-kita yang ada di posko ini kami sangat terbantu dengan hadirnya relawan Pendekar 08 dari pusat untuk menemui kami disini anak-anak sangat senang anak-anak sangat terbantu anak-anak sangat terhibur begitu juga dengan Bapak Mama yang ada di sini mereka sangat merasakan bahwa mereka ada yang dipedulikan,” katanya.
Pemulihan pascagempa berjalan bersamaan dengan proses kepulangan sebagian warga ke rumah masing-masing. Bagi warga yang masih berada di pengungsian, pemenuhan kebutuhan dasar dan pemulihan psikologis perlu berjalan beriringan agar proses pemulihan mencakup dampak bencana yang bersifat fisik maupun psikologis.




