Sabtu 08 Aug 2026 21:35 WIB

Program Pendidikan Profesi Arsitek UPH Raih Akreditasi Pertama dari BAN-PT

Hal ini sekaligus memperkuat pembelajaran berbasis praktik dan teknologi.

Program Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) Universitas Pelita Harapan (UPH) resmi meraih status Terakreditasi Pertama dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Foto: Dok. UPH
Program Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) Universitas Pelita Harapan (UPH) resmi meraih status Terakreditasi Pertama dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Program Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) Universitas Pelita Harapan (UPH) resmi meraih status Terakreditasi Pertama dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Pencapaian ini menjadi bagian dari komitmen UPH dalam menghadirkan pendidikan profesi arsitek yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Status tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan Nomor 436/SK/BAN-PT/Ak.P/2.0/Profesi/VII/2026 dan berlaku mulai 21 Juli 2026 hingga 21 Juli 2028.

Baca Juga

Ketua Program Studi PPAr UPH Andreas Dwiputro Handoyo mengatakan akreditasi tersebut menegaskan kesiapan PPAr UPH dalam menyelenggarakan pendidikan profesi yang mengacu pada standar nasional maupun internasional.

“PPAr UPH siap menyelenggarakan pendidikan profesi arsitek melalui skema pendidikan 4+1, yaitu empat tahun pendidikan sarjana yang dilanjutkan satu tahun pendidikan profesi,” ujarnya dalam keterangan pers, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Andreas, pendidikan profesi menjadi tahapan penting bagi lulusan arsitektur yang ingin melanjutkan ke dunia praktik. Karena itu, PPAr UPH dirancang sebagai jembatan antara pendidikan sarjana dan kebutuhan profesi arsitek.

PPAr UPH menempuh pendidikan selama dua semester atau 36 SKS. Kurikulumnya disusun berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), standar kompetensi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), kompetensi Union Internationale des Architectes (UIA), serta Student Performance Criteria dari Korean Architectural Accrediting Board (KAAB).

Pembelajaran juga didukung dosen yang merupakan akademisi sekaligus praktisi dan telah memiliki Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA). Mahasiswa memperoleh pengalaman belajar melalui studio dan berbagai fasilitas pendukung, termasuk laboratorium pemodelan digital dengan teknologi 3D printing, CNC cutting, dan laser cutting.

Salah satu fokus pembelajaran PPAr UPH adalah perancangan bangunan publik multifungsi di kawasan perkotaan yang dipadukan dengan teknologi digital. Mahasiswa juga dibekali kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, etika profesi, serta pemahaman regulasi dan keselamatan bangunan.

Andreas mengatakan proses pembelajaran tersebut diarahkan untuk mempersiapkan lulusan menghadapi dunia profesi sekaligus mengembangkan kemampuan mereka dalam menghasilkan solusi arsitektur yang inovatif.

“PPAr UPH tidak hanya mempersiapkan alumni untuk memenuhi standar kompetensi profesi, tetapi juga mendukung mereka menjadi creative leader yang mampu membangun praktik arsitektur secara mandiri,” jelasnya.

Dengan diraihnya akreditasi pertama dari BAN-PT, PPAr UPH selanjutnya akan terus memperkuat kolaborasi dengan industri, pemerintah, organisasi profesi, dan institusi internasional. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga relevansi pendidikan dengan perkembangan dunia arsitektur.

Akreditasi ini sekaligus menegaskan komitmen UPH untuk menghadirkan pendidikan profesi yang memadukan pengalaman belajar berbasis praktik, penguasaan teknologi, serta pengembangan kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia arsitektur.

"Ke depan kami ingin memperkuat kolaborasi yang telah terjalin sekaligus memperluas kemitraan di tingkat nasional dan internasional. Dengan demikian, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang semakin kaya dan siap menghadapi perkembangan dunia arsitektur yang terus berubah," kata Andreas.

Berita Lainnya

Rekomendasi