Jumat 19 Jan 2024 12:24 WIB

Ini Upaya UPH untuk Turut Majukan Wisata Berkelanjutan di Klaten

Sustainable tourism dari UPH telah diterapkan di Desa Kebondalem Kidul.

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Sustainable tourism alias wisata keberlanjutan yang awalnya hanya diminati oleh sejumlah orang kini sudah berubah menjadi kebutuhan umum. Universitas Pelita Harapan (UPH) turut berupaya memajukan wisata keberlanjutan itu dengan menerapkannya di Desa Kebondalem Kidul, Klaten, Jawa Tengah, sebagai bagian dari experiental learning bagi mahasiswa.
Foto: Dok UPH
Sustainable tourism alias wisata keberlanjutan yang awalnya hanya diminati oleh sejumlah orang kini sudah berubah menjadi kebutuhan umum. Universitas Pelita Harapan (UPH) turut berupaya memajukan wisata keberlanjutan itu dengan menerapkannya di Desa Kebondalem Kidul, Klaten, Jawa Tengah, sebagai bagian dari experiental learning bagi mahasiswa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sustainable tourism alias wisata keberlanjutan yang awalnya hanya diminati oleh sejumlah orang kini sudah berubah menjadi kebutuhan umum. Universitas Pelita Harapan (UPH) turut berupaya memajukan wisata keberlanjutan itu dengan menerapkannya di Desa Kebondalem Kidul, Klaten, Jawa Tengah, sebagai bagian dari experiental learning bagi mahasiswa.

“Tidak hanya mahasiswa saja yang mendapatkan pengetahuan, para penduduk setempat juga mendapatkan manfaat dari mahasiswa UPH dalam mengembangkan tata hidangan yang lebih profesional,” ucap Ketua Prodi Pengelolaan Perhotelan UPH Amelda Pramezwary dalam keterangannya, Kamis (18/1/2024).

Dia menjelaskan, sustainable tourism dari UPH telah diterapkan di Desa Kebondalem Kidul. Sebagai bagian dari kegiatan experiential learning, mahasiswa UPH turut terlibat dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di sana melalui pengembangan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan potensi kuliner di desa tersebut.

Melalui kegiatan itu, masyarakat lokal memiliki peluang baru untuk mengembangkan produk wisata kuliner secara berkelanjutan. Para mahasiswa UPH memberdayakan masyarakat setempat, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka, serta menciptakan ekosistem pariwisata yang saling menguntungkan.

“Kami mempersiapkan mahasiswa untuk tidak hanya mengerti secara teori tentang konsep sustainability tourism yang ada di desa wisata. Namun, terjun langsung merasakan pengalaman selama mereka berada di sana sehingga semakin menambah wawasan mereka tentang desa wisata tersebut,” kata Amelda menjelaskan.

Dia menambahkan, dengan kreativitas dalam seni penyajian makanan dan manajemen event yang baik, produk sajian akan menjadi lebih menarik, modern, dan siap disebarluaskan serta dilestarikan. Kegiatan itu, kata dia, merupakan salah satu penerapan dari mata kuliah planning and development sustainable tourism yang dipelajari oleh mahasiswa di tahun kedua perkuliahan.

Untuk turut memajukan sustainable tourism, Prodi Pengelolaan Perhotelan UPH mengintegrasikan keempat pilar utama Kemenparekraf, yakni pengelolaan bisnis pariwisata yang berkelanjutan, aspek ekonomi berkelanjutan, keberlanjutan budaya, dan lingkungan berkelanjutan. Di mana, UPH memberikan pelatihan untuk merancang dan mengelola destinasi pariwisata yang berkelanjutan.

“Termasuk perencanaan tata ruang, manajemen limbah, dan pengembangan infrastruktur ramah lingkungan,” kata dia menjelaskan.

Seperti diketahui, pandemi global telah membawa perubahan di berbagai aspek kehidupan. Selain meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan, masyarakat kini juga semakin familier dengan konsep sustainability atau keberlanjutan di berbagai bidang. Berbagai transisi menuju keberlanjutan kini menjadi prioritas berbagai pihak, mulai dari kalangan pemerintah hingga masyarakat.

Perubahan itu juga terjadi di sektor pariwisata, di mana sustainable tourism, yang awalnya hanya diminati oleh sejumlah orang, kini menjadi kebutuhan umum. Wisatawan kini lebih tertarik untuk menjelajahi keindahan alam, dengan memperhatikan dampak positifnya terhadap lingkungan, budaya, sosial, dan ekonomi, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Sustainable tourism tidak hanya tentang mengembangkan destinasi wisata, tetapi juga mempertimbangkan dampak aktivitas pariwisata pada lingkungan, budaya, sosial, dan ekonomi. Konsep ini menekankan pemikiran jangka panjang dengan mempertimbangkan dampak positif bagi masyarakat setempat dan lingkungan secara keseluruhan.

Dengan meningkatnya kesadaran akan pariwisata berkelanjutan, wisatawan kini lebih memperhatikan protokol kelestarian alam, kesehatan, keamanan, dan kenyamanan. Konsep pariwisata berkelanjutan bukan hanya menjadi tren baru dalam berwisata, tetapi juga mencerminkan kesadaran global terhadap tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlanjutan bumi dan kehidupan sosial. 

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, atau Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), saat ini tidak hanya berfokus pada peningkatan angka kunjungan wisatawan di Indonesia saja, tetapi juga lebih mengarah pada upaya mempromosikan pariwisata berkelanjutan di tanah air.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement