Kamis 23 Jul 2026 10:00 WIB

Perguruan Tinggi Harus Adaptif Hadapi Disrupsi AI

Transformasi digital tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi baru.

Ketua Senat Unkris sekaligus Ketua Pembina Yayasan Unkris Gayus Lumbuun (tengah).
Foto: Unkris
Ketua Senat Unkris sekaligus Ketua Pembina Yayasan Unkris Gayus Lumbuun (tengah).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mendorong perguruan tinggi mempercepat transformasi digital sekaligus menyesuaikan sistem pembelajaran agar mampu menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap perubahan dunia kerja. Selain pemanfaatan teknologi, penguatan regulasi dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia juga dinilai menjadi kebutuhan dalam menghadapi disrupsi digital.

Hal tersebut ditekankan Ketua Senat Unkris sekaligus Ketua Pembina Yayasan Unkris Gayus Lumbuun dalam wisuda Universitas Krisnadwipayana (Unkris) yang diikuti 1.300 lulusan di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (22/7/2026). Prosesi wisuda meliputi Program Sarjana ke-65, Program Magister ke-29, dan Program Doktor ke-13.

Baca Juga

Gayus Lumbuun mengatakan, perguruan tinggi perlu terus meningkatkan mutu kelembagaan dan menyiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan AI.

“Unkris saat ini tengah berupaya meningkatkan mutu institusi, termasuk dalam proses menuju akreditasi unggul. Pembaruan kelembagaan terus dilakukan agar universitas mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” kata Gayus berdasarkan siaran pers, Kamis (23/7/2026).

Menurut Gayus, perkembangan AI akan menjadi bagian penting dalam Revolusi Industri 5.0 sehingga perguruan tinggi perlu menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap perubahan teknologi. Di sisi lain, ia menilai perkembangan tersebut juga perlu diimbangi regulasi yang memadai, termasuk penyusunan aturan hukum siber dan mekanisme peradilan digital.

“Kita memerlukan cyber law dan sistem peradilan digital yang mampu mengadili berbagai pelanggaran di bidang teknologi dan kecerdasan buatan secara adil,” ujarnya.

Rektor Unkris Ali Johardi mengatakan, transformasi digital di lingkungan kampus dilakukan melalui pengembangan sistem akademik, administrasi, pelayanan kemahasiswaan, hingga pembelajaran berbasis teknologi. Menurutnya, transformasi tersebut juga diiringi perluasan kerja sama internasional, termasuk dengan sejumlah perguruan tinggi di Rusia, Jepang, dan Amerika Serikat.

“Organisasi yang mampu bertahan adalah organisasi yang adaptif, inovatif, dan mampu mengubah tantangan menjadi peluang melalui pemanfaatan teknologi,” katanya.

Kepala LLDIKTI Wilayah III Henry Togar Hasiholan menilai transformasi digital tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi baru, tetapi juga perubahan pola pikir dan budaya kerja. Menurutnya, dunia industri kini lebih membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis, menyelesaikan persoalan, serta memiliki integritas.

“Yang dicari industri saat ini adalah mereka yang mampu menjadi problem solver, memiliki integritas, dan mampu mengelola pekerjaan dengan cara-cara baru,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Unkris mewisuda 1.300 lulusan yang terdiri atas 962 lulusan program sarjana, 329 lulusan program magister, dan 9 lulusan program doktor.

Berita Lainnya

Rekomendasi