REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perkembangan artificial intelligence (AI) semakin mengubah cara arsitek dan desainer bekerja.AI membuka kemungkinan baru dalam desain, namun kreativitas, intuisi, dan sentuhan manusia tetap menjadi bagian penting dalam arsitektur. Perubahan tersebut menjadi pembahasan dalam MM Talk: AI Webinar yang digelar MM Galleri.
Webinar menghadirkan Tim Fu, Founder & Director Studio Tim Fu, yang bergabung secara daring dari London, Inggris. Diskusi turut menghadirkan Founder & Creative Director MM Galleri GroupPeter S Tjioe, Director MM Galleri Jakarta & BaliHengky Djaja, serta Architectural Photographer Mario Wibowo.
Dalam presentasinya, Tim Fu menunjukkan bagaimana AI dapat membantu arsitek mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan dalam waktu yang lebih singkat, mulai dari ide awal, bentuk, materialitas, hingga pengembangan desain. Menurut Tim, perkembangan AI tidak berarti manusia kehilangan perannya dalam proses desain.
Justru, manusia perlu semakin aktif dalam mengarahkan teknologi agar menghasilkan output yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan desain. "Membimbingnya selalu lebih baik daripada tidak membimbingnya karena pada akhirnya saya pikir pada tahap AI saat ini masih membutuhkan banyak masukan manusia untuk memberikan hasil yang lebih baik," ujar Tim Fu dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Dalam praktiknya, Studio Tim Fu menggunakan AI sebagai bagian dari proses eksplorasi, refinement, dan pengembangan desain. Teknologi membantu mempercepat proses iterasi, sementara keputusan mengenai konsep, fungsi, konteks, material, hingga kelayakan desain tetap membutuhkan pertimbangan manusia.
Sementara Peter S Tjioe melihat AI sebagai alat untuk memperluas kreativitas manusia. Menurut dia, teknologi memungkinkan desainer menghasilkan konsep dan visualisasi dengan kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Namun, menghasilkan desain secara digital dan mewujudkannya menjadi karya fisik merupakan dua hal yang berbeda.
Di sinilah material, craftsmanship, dan sentuhan manusia tetap memiliki peranan penting. "Teknologi bisa menjadi alat yang sangat powerful, tetapi sebuah karya tetap membutuhkan soul dan sense of beauty. Ada rasa dan nilai artistik yang datang dari manusia," ucap Peter.




