REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktivis Gerakan Nurani Bangsa, Lukman Hakim Saifuddin, menilai perbaikan kebijakan manajemen perguruan tinggi merupakan sebuah keniscayaan. Namun, menurut dia, persoalan yang jauh lebih mendasar adalah mengembalikan paradigma pendidikan tinggi kepada amanat konstitusi dengan mengakhiri praktik komersialisasi dan liberalisasi pendidikan.
“Perbaikan kebijakan manajemen dunia perguruan tinggi kita adalah keniscayaan. Namun hal yang lebih mendasar adalah meluruskan kembali paradigma pendidikan tinggi kita,” kata Lukman dalam keterangannya, Selasa (7/7/2026).
Mantan Menteri Agama itu menyoroti fenomena puluhan ribu calon mahasiswa yang telah dinyatakan lolos Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), tetapi tidak melakukan daftar ulang. Menurut dia, kondisi ini menjadi alarm serius bagi pemerintah untuk mengevaluasi pembiayaan pendidikan tinggi, khususnya Uang Kuliah Tunggal (UKT).
“Di tengah penurunan daya beli masyarakat, ketidakpastian berusaha dan berniaga, serta kesenjangan kesejahteraan yang makin lebar, liberalisasi dan komersialisasi pendidikan tinggi harus segera dihapuskan,” ujar Lukman.
Ia mengatakan negara tidak boleh kehilangan calon generasi muda berpendidikan tinggi hanya karena persoalan biaya. Menurut Lukman, pemerintah semestinya menempatkan pendidikan tinggi sebagai investasi strategis bangsa, bukan ruang komersialisasi yang membuat keluarga berpenghasilan menengah ke bawah semakin tertekan.
“Pemerintah dituntut mengembalikan paradigma pendidikan dari komersialisasi dan liberalisasi ke amanat konstitusi. Prinsip keadilan sosial harus benar-benar tercermin dalam afirmasi pembiayaan pendidikan tinggi,” katanya.
Lukman juga menilai besaran UKT kerap tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan riil keluarga mahasiswa. Ia menyoroti adanya tingkatan UKT yang dinilai terlalu sempit sehingga keluarga pegawai menengah dapat terbebani biaya yang hampir sama dengan kelompok ekonomi jauh lebih mapan.
“Besaran UKT jangan malah bertolak belakang dengan kondisi riil kemampuan keuangan keluarga mahasiswa,” ujar Lukman.




