REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG SELATAN -- Universitas Terbuka (UT) menilai pendidikan tinggi harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Sistem pembelajaran yang fleksibel dinilai menjadi kunci agar masyarakat tetap dapat meningkatkan kompetensi tanpa meninggalkan profesi dan tanggung jawabnya.
Rektor Universitas Terbuka (UT) Ali Muktiyanto mengatakan, pendidikan tinggi tidak lagi hanya ditujukan bagi lulusan sekolah yang baru memasuki perguruan tinggi, tetapi juga harus menjawab kebutuhan para pekerja, pemimpin, pendidik, atlet, hingga masyarakat yang ingin terus meningkatkan kapasitas diri di setiap fase kehidupan.
"Pendidikan tinggi harus semakin dekat dengan kebutuhan zaman. Fleksibilitas pembelajaran bukan sekadar kemudahan teknis, tetapi menjadi jembatan bagi para pekerja, pemimpin, pendidik, atlet, dan masyarakat luas untuk tetap menempuh pendidikan berkualitas di tengah ritme hidup yang terus bergerak," kata Ali.
Menurut Ali, pendekatan tersebut tercermin dari sekitar 1.800 lulusan dari 12 UT Daerah yang mengikuti Wisuda Wilayah 1 di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan. Para lulusan berasal dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari pejabat negara, pimpinan BUMN, atlet profesional, penerima Beasiswa KIP-K, hingga pembelajar senior.
Ali mengatakan pendidikan tinggi tetap menjadi kebutuhan penting, bahkan bagi mereka yang telah berada pada posisi pengambil keputusan. Hal itu terlihat dari sejumlah lulusan yang berasal dari sektor strategis nasional.
Adrian Sutawijaya, Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Umum, menyelesaikan Program Doktor Ilmu Manajemen UT Jakarta. Direktur Pemeriksaan I.C BPK Ida Irawati menuntaskan Program Doktor Administrasi Publik UT Jakarta.
Selain itu, Kepala Pusat Analisis Kebijakan Pemeriksaan Keuangan Negara BPK Selvia Vivi Devianti menyelesaikan Program Studi Ilmu Hukum UT Jakarta. Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero) Muh Erry Sugiharto juga lulus dari Program Studi Ilmu Hukum UT Jakarta.
Di bidang olahraga, atlet futsal profesional Indonesia Marvin Alexa Wossiry menyelesaikan Program Studi Manajemen UT Jakarta. Menurut Ali, hal itu menunjukkan prestasi di lapangan dan pendidikan tinggi dapat berjalan beriringan ketika sistem pembelajaran dirancang adaptif terhadap kebutuhan mahasiswa.
UT juga membuka akses pendidikan bagi berbagai kalangan. Elly Agustina dari UT Medan meraih predikat wisudawan berdedikasi dan berprestasi pada Program Magister Pendidikan Dasar. Ratna, penerima Beasiswa KIP-K dari Program Studi Ilmu Hukum UT Jambi, menjadi contoh bahwa akses pendidikan tinggi mampu membuka peluang mobilitas sosial dan masa depan yang lebih luas.
Di sisi lain, Sri Hartati menjadi wisudawan tertua dari UT Jakarta pada Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis S1. Pada usia 67 tahun, ia menunjukkan bahwa pendidikan tidak mengenal batas usia selama ada kemauan untuk terus belajar.
Prestasi akademik juga ditunjukkan Yurni Prawita dari UT Bengkulu yang meraih IPK 4,00 dengan predikat Dengan Pujian pada Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris.
Ali menegaskan UT terus mengembangkan ekosistem pembelajaran yang memungkinkan masyarakat tetap bekerja, memimpin, mengabdi, dan berprestasi sambil menyelesaikan pendidikan tinggi.
"UT hadir sebagai ekosistem belajar yang memungkinkan seseorang tetap bekerja, memimpin, mengabdi, berprestasi, dan pada saat yang sama menyelesaikan pendidikan tinggi. Kontribusi UT bukan hanya mencetak lulusan, tetapi ikut memperkuat manusia-manusia pembelajar yang terus bergerak membawa dampak bagi bangsa," kata Ali.




