Rabu 03 Jun 2026 15:37 WIB

Hadapi Cuaca Ekstrem, Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Pengendali Banjir

JakTirta Project mencakup pembangunan 20 rumah pompa dengan 61 unit pompa.

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Mas Alamil Huda
Rombongan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memantau kondisi sungai dengan perahu karet saat kegiatan susur sungai di Kanal Banjir Barat, Jakarta, Kamis (31/7/2025). Penyusuran Sungai Ciliwung oleh Gubernur DKI Jakarta tersebut untuk memantau sejumlah titik sentral dalam pengendalian banjir yakni di Pintu Air Manggarai, Pintu Air Setiabudi, dan Pintu Air KPK.
Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Rombongan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memantau kondisi sungai dengan perahu karet saat kegiatan susur sungai di Kanal Banjir Barat, Jakarta, Kamis (31/7/2025). Penyusuran Sungai Ciliwung oleh Gubernur DKI Jakarta tersebut untuk memantau sejumlah titik sentral dalam pengendalian banjir yakni di Pintu Air Manggarai, Pintu Air Setiabudi, dan Pintu Air KPK.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Banjir masih menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi Jakarta hingga saat ini. Berbagai faktor, mulai dari curah hujan tinggi, keterbatasan drainase, hingga kondisi geografis kota, membuat sejumlah wilayah rentan tergenang. Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperkuat infrastruktur pengendali banjir.

Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum mengatakan infrastruktur pengendali banjir yang dimiliki Jakarta saat ini dirancang untuk menangani curah hujan sekitar 100–150 milimeter. Sementara dalam beberapa tahun terakhir, intensitas hujan ekstrem dapat mencapai 150–250 milimeter.

Baca Juga

Menurut Ika, kondisi tersebut menuntut peningkatan kapasitas infrastruktur pengendali banjir agar mampu menghadapi curah hujan yang lebih tinggi. “Pemprov DKI terus melakukan berbagai upaya penguatan, salah satunya melalui penambahan dan penyiagaan pompa stasioner maupun pompa mobile di berbagai wilayah,” ungkap Ika.

Sepanjang 2025, Dinas SDA menambah 29 unit pompa mobile dengan kapasitas total 9,175 meter kubik per detik. Pada 2026, penambahan kembali dilakukan dengan rencana pengadaan 14 unit pompa berkapasitas 9,3 meter kubik per detik. Hingga 18 Mei 2026, Jakarta telah memiliki 683 unit pompa stasioner yang tersebar di 246 lokasi, serta 540 unit pompa mobile yang disiagakan di lima wilayah kota administrasi dan Kabupaten Kepulauan Seribu.

Perkuat Sistem Polder dan Rumah Pompa

Selain menyiagakan pompa, Pemprov DKI Jakarta memperkuat infrastruktur pengendali banjir melalui proyek JakTirta dan NCICD/Tanggul Pengaman Pantai. Program ini mencakup pembangunan sistem polder, peningkatan tanggul sungai, pembangunan waduk atau embung, serta perbaikan saluran drainase di wilayah rawan banjir.

Salah satu proyek yang sedang berjalan adalah Sistem Tata Air Rumah Pompa Ancol di Pademangan, Jakarta Utara. Proyek ini dimulai pada 2025 dan ditargetkan selesai pada 2027.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut JakTirta Project mencakup pembangunan 20 rumah pompa dengan 61 unit pompa berkapasitas total 148 meter kubik per detik. “Kami ingin memastikan pembangunan ini berjalan optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.

Khusus Rumah Pompa Ancol, kapasitas pompa meningkat dari 15 meter kubik per detik menjadi 40 meter kubik per detik. Tambahan kapasitas 25 meter kubik per detik itu berasal dari lima unit pompa, masing-masing berkapasitas lima meter kubik per detik.

“Penambahan ini sangat penting untuk meningkatkan kemampuan sistem dalam menangani debit air yang tinggi,” kata Pramono.

Rumah Pompa Ancol disiapkan untuk mempercepat aliran air menuju laut sehingga tinggi dan durasi genangan bisa berkurang. Infrastruktur ini juga menjadi bagian dari mitigasi banjir rob di kawasan Ancol dan Pademangan.

Pengendalian Holistik

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement