REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Panitia Global Sumud Flotilla menyatakan kemungkinan para peserta Armada Global Sumud yang diculik Israel akan dibawa ke Penjara Ketziot. Otoritas konsuler dilaporkan mulai menyiapkan pendampingan bagi para aktivis internasional dan jurnalis yang ditahan Israel, termasuk dari Indonesia.
Dalam keterangan resmi yang dirilis panitia pelayaran, informasi terbaru dari pihak konsulat menyebutkan pemerintah Israel akan mulai mengatur kunjungan bantuan konsuler setelah para relawan tiba di Pelabuhan Ashdod dan dipindahkan ke Penjara Ketziot.
Pelabuhan Ashdod disebut menjadi lokasi awal pemrosesan para aktivis sebelum mereka dibawa ke Ketziot Prison, fasilitas penahanan yang selama ini dikenal sebagai tempat penahanan warga Palestina dan tahanan keamanan.
“Informasi terbaru yang diterima konsul langsung dari otoritas Israel adalah bahwa besok, setelah mereka tiba di Ashdod, diproses, dan dipindahkan ke Ketziot, kunjungan bantuan konsuler akan mulai diatur,” demikian pernyataan panitia Global Sumud Flotilla, Rabu dini hari WIB atau Selasa malam waktu Palestina.
Menurut panitia Global Sumud inilah yang terjadi pada dua misi besar tahun lalu. Ini juga merupakan skenario yang telah dipersiapkan oleh para peserta, pengacara, dan tim pendukung.
“Para peserta akan mendarat dalam beberapa jam mendatang di pelabuhan Ashdod dan pengacara kami akan berada di sana untuk mengonfirmasi kedatangan mereka.”
“Sebagian peserta disebut akan diproses melalui sistem berarti transfer akan memakan waktu beberapa jam.”
Sebelumnya, pasukan Israel mencegat puluhan kapal Global Sumud Flotilla yang berupaya menembus blokade Gaza untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan sejak Senin (18/5/2026). Sejumlah aktivis dari berbagai negara dilaporkan ditahan dalam operasi tersebut.