REPUBLIKA.CO.ID, NAGOYA -- Fitriani Sabatini/Fadona Kusumawati tak akan berlama-lama merayakan pencapaian mereka meraih medali perak Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Pasangan padel putri Indonesia itu harus segera mengalihkan perhatian ke agenda berikutnya, kualifikasi Piala Dunia di Kuwait pada 26-30 Oktober.
Fadona mengatakan, mereka tidak ingin kehilangan momentum setelah tampil di partai puncak Asian Games.
"Kami persiapan untuk kualifikasi World Cup di Kuwait nanti tanggal 26-30 Oktober bulan ini, jadi kami enggak boleh lengah. Setelah ini kami harus fokus lagi, masih banyak tanggung jawab buat Indonesia juga," kata Fadona seusai final Asian Games di Nagoya City Higashi Sport Center, Sabtu (3/10/2026).
Medali perak di Asian Games menjadi modal sekaligus tambahan motivasi bagi Fitriani/Fadona. Keduanya menilai hasil tersebut berada di luar target awal, tetapi kekalahan dari pasangan Jepang Saki Tsukamoto/Kae Tokumoto juga memberi bahan evaluasi sebelum menghadapi turnamen berikutnya.
"Kami harus terus semangat, kembali lebih kuat. Kami sudah dapat medali perak itu di luar target kami," ujar Fadona.
Fadona bahkan sudah menyimpan target pribadi jika kembali berhadapan dengan pasangan Jepang tersebut. Ia ingin menjadikan kekalahan di final Asian Games sebagai pelecut untuk meraih hasil berbeda pada pertemuan berikutnya.
"Saya ingin mengalahkan mereka di turnamen berikutnya," katanya.
Pada final Asian Games, Fitriani/Fadona kalah 3-6, 4-6. Mereka sempat berada di atas angin pada set kedua dengan keunggulan 4-1, tetapi Saki/Kae mampu membalikkan keadaan dan merebut lima gim berikutnya untuk memastikan medali emas bagi Jepang.
Lawan tangguh
Fitriani menilai pengalaman menjadi salah satu pembeda dalam pertandingan tersebut. Pasangan Jepang sudah lebih lama menekuni padel dan memiliki status sebagai unggulan teratas.
"Ya, mereka sangat bagus, mereka lawan yang sangat tangguh. Mereka juga unggulan teratas dan lebih berpengalaman. Mereka sudah bermain padel lebih awal daripada kami," kata Fitriani.
Karena itu, Fitriani ingin memperbanyak latihan dan pertandingan sebelum menghadapi persaingan berikutnya. Menurut dia, pengalaman dari lebih banyak turnamen akan membantu mereka meningkatkan permainan.
"Saya ingin kembali lebih kuat. Saya ingin latihan lagi dan lagi, dan juga mengikuti banyak turnamen untuk pengalaman," ujarnya.
Fadona menilai salah satu persoalan dalam final adalah permainan mereka yang terlalu banyak bertahan. Kondisi tersebut membuat pasangan Indonesia kesulitan keluar dari tekanan ketika lawan terus meningkatkan intensitas permainan.
"Mereka bagus, kami hanya bermain bertahan, tetapi kami tidak bisa terus bertahan karena mereka terus menekan kami. Mereka sangat solid dan lebih berpengalaman dari kami," kata Fadona.
Meski gagal meraih emas, Fitriani tetap mensyukuri pencapaian tersebut. Apalagi, Asian Games Aichi-Nagoya menjadi penampilan perdana padel di pesta olahraga terbesar Asia sehingga medali perak memiliki arti tersendiri bagi mereka.
"Kami sangat senang mendapatkan perak. Ini pertama kalinya kami tampil di Asian Games, dan kami membuat sejarah karena padel juga pertama kali di Asian Games. Saya sangat bersyukur untuk semuanya," ujar Fitriani.
Medali Fitriani/Fadona melengkapi pencapaian Indonesia pada nomor padel putri. Sebelumnya, Beatrice Gumulya/Novela Putria meraih medali perunggu setelah mengalahkan pasangan Filipina Danna Abad/Joshea Malazarte dua set langsung 6-0, 6-0.




