Jumat 08 May 2026 19:09 WIB

Modus Ashari Cabuli Santriwati: Melawan Guru Setara Perang dengan Tuhan

Ashari mendoktrin santriwati agar menaati perintahnya.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Mas Alamil Huda
H (52 tahun), didampingi kuasa hukumnya, memberikan keterangan kepada awak media di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (8/5/2026). H merupakan ayah dari FA, santriwati yang diduga menjadi korban pencabulan Ashari bin Karsana, pendiri Pondok Pesantren Ndholo Kusumo di Kabupaten Pati.
Foto: Kamran Dikarma/Republika
H (52 tahun), didampingi kuasa hukumnya, memberikan keterangan kepada awak media di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (8/5/2026). H merupakan ayah dari FA, santriwati yang diduga menjadi korban pencabulan Ashari bin Karsana, pendiri Pondok Pesantren Ndholo Kusumo di Kabupaten Pati.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- H (52 tahun), ayah dari FA, santriwati yang menjadi terduga korban pencabulan Ashari bin Karsana, pendiri Pondok Pesantren Ndholo Kusumo di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengungkap modus pencabulan oleh Ashari. Dia mengatakan, Ashari mendoktrin santriwati agar menaati perintahnya karena pembangkangan sama saja dengan melawan Allah SWT.

H mengatakan, dia melaporkan kasus dugaan pencabulan oleh Ashari ke Polresta Pati pada Juli 2024. Pelaporan dilakukan setelah FA menceritakan apa yang dialaminya kepada H.

Baca Juga

H meyakini, bukan hanya putrinya yang menjadi korban kekerasan seksual Ashari. Sebab setelah FA menceritakan apa yang dialaminya, H sempat melakukan konfirmasi ke sejumlah santriwati Ponpes Ndholo Kusumo lainnya. Mereka yang ditemui H mengaku turut menjadi korban pencabulan Ashari.

Berdasarkan keterangan yang dihimpunnya, H menyebut, sejumlah santriwati sebenarnya enggan dan menolak perlakuan cabul Ashari terhadap mereka. "Tapi di sisi lain dia sudah terdoktrin, apa yang dilakukan kiai itu harus manut," kata H ketika memberikan keterangan kepada awak media di Kota Semarang, Jumat (8/5/2026).

Dia menambahkan, santriwati yang enggan menaati dan memenuhi permintaan Ashari disebut tak akan memperoleh jalur keilmuan. "Kalau tidak manut, nanti jalur keilmuannya diputus. Sebab kalau sudah diputus, katanya si kiai tadi, murid berani sama guru berarti berani sama Allah SWT," ujarnya.

"Jadi seorang murid berani kepada guru berarti dia berani perang sama Tuhan," tambah H.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement