Senin 04 May 2026 10:29 WIB

Trump ke Media Israel: Proposal Baru Iran tak Bisa Diterima

Iran mengajukan proposal berisi 14 poin dalam rangka mengakhiri konflik dengan AS.

Presiden AS Donald Trump saat rapat kabinet di Ruang Kabinet Gedung Putih di Washington, DC, 26 Maret 2026.
Foto: EPA/WILL OLIVER / POOL
Presiden AS Donald Trump saat rapat kabinet di Ruang Kabinet Gedung Putih di Washington, DC, 26 Maret 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Ahad (3/5/2026) mengatakan telah mempelajari usulan baru Iran untuk menyelesaikan konflik antara AS dan Iran. Namun demikian, ia menilai usulan itu tidak dapat diterima.

“(Proposal) itu tidak dapat saya terima. Saya telah mempelajarinya, saya sudah mempelajari semuanya — itu tidak dapat diterima,” kata Trump kepada penyiar Israel Kan.

Baca Juga

Pemimpin AS itu menambahkan bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran disebut berjalan dengan sangat baik. Sebelumnya pada hari yang sama, Al Jazeera melaporkan, mengutip sumber yang mengetahui persoalan tersebut, bahwa Iran telah mengajukan rencana tiga tahap kepada AS untuk mencapai perdamaian jangka panjang, yang mencakup penghentian pengayaan uranium hingga 15 tahun.

Tahap pertama dalam rencana tersebut mencakup penghentian total permusuhan antara AS dan Iran dalam waktu 30 hari, penerapan gencatan senjata di seluruh kawasan, serta kesepakatan non-agresi antara kedua negara yang juga melibatkan sekutu Iran di kawasan dan Israel.

Selain itu, direncanakan pembentukan mekanisme pemantauan internasional untuk mengawasi kemungkinan pelanggaran gencatan senjata.

Tahap kedua mencakup pembekuan kegiatan pengayaan uranium hingga 15 tahun, yang kemudian diikuti dengan pembatasan tingkat pengayaan hingga 3,6 persen sesuai dengan prinsip penyimpanan nol (zero storage).

Tahap ketiga, yang bersifat jangka panjang, mencakup dimulainya dialog strategis Iran dengan negara-negara Arab dan negara tetangga di kawasan guna membentuk sistem keamanan bersama.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

sumber : Antara, Sputnik/RIA Novosti-OANA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement