REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia jatuh pada 23 April ini. Terkait hal ini, Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Arys Hilman mengingatkan sejumlah pekerjaan rumah terkait perbukuan dan penerbitan di Indonesia.
“Pertama, nama lengkap Hari Buku Sedunia adalah Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Nah, dalam persoalan hak cipta, manusia kita punya masalah sangat serius. Pembajakan buku ada di mana-mana,” ujarnya dalam pernyataan pada Kamis.
Menurutnya, para penerbit dan penulis tercekik habis-habisan oleh para pembajak buku. Berdasarkan survei Ikapi pada 2021, sekitar 75 persen penerbit menemukan buku terbitan mereka dibajak dan dijual di lokapasar. Survei ini melibatkan lebih dari 130 penerbit. Kerugian akibat pembajakan ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah.
“Hal kedua, Hari Buku Sedunia sesungguhnya adalah punya misi untuk memberikan buku untuk anak-anak dan anak muda. Tetapi apa yang kita lihat di negeri kita, anak-anak kita tidak membaca buku secara cukup memadai,” kata Arys.
“Kenapa? Karena akses terhadap bahan bacaan tidak memadai. Perpustakaan ada di pusat-pusat kota, tetapi tidak semua anak-anak menikmati buku bacaan. Akhirnya apa? Mereka tidak memiliki budaya baca.”
Kajian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2024 yang dilansir Perpustakaan Nasional mencatat, total perpustakaan secara nasional pada 2024 mencapai 178.756 unit. Jumlah itu, masih jauh dari yang dibutuhkan masyarakat.
Menurut kajian Perpusnas, jumlah perpustakaan saat ini hanya memenuhi 45,31 persen standar ketercukupan perpustakaan untuk masyarakat. Artinya, masih terdapat kekurangan perpustakaan sebesar 54,69 persen atau sejumlah 210.784 perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan 385.388 perpustakaan.
Sementara di perpustakaan-perpustakaan yang ada saat ini, koleksi bukunya juga serupa, jauh dari standar. Perpusnas mencatat, total koleksi perpustakaan secara nasional pada 2024 sebanyak 211.426.907 judul. Angka ini naik dari koleksi pada 2023 sebanyak 173.707.673 judul.
Jumlah koleksi buku pada 2024 itu hanya mencapai 37,93 persen dari standar. Artinya terjadi kekurangan koleksi perpustakaan sebesar 62,07 persen dari standar atau sebanyak 345.966.067 judul koleksi untuk dapat memenuhi standar yaitu sebanyak 557.392.974 judul koleksi perpustakaan.
“Ketiga, peringatan Hari Buku Sedunia selalu berbarengan dengan penunjukan World Book Capital oleh UNESCO alias Ibu Kota Buku Dunia. Kuala Lumpur pernah menyandang gelar tersebut pada 2020. Bangkok? Pernah juga, tahun 2013. Jakarta pernah punya niat pada tahun 2021, tetapi niat itu perlahan-lahan pudar dan ditelan oleh angin lalu.
Jadi, jangan berkhayal terlalu tinggi. Nanti kalau jatuh dalam kenyataan, sakitnya sih beneran. Salam literasi.”