REPUBLIKA.CO.ID, VATIKAN – Berasal dari Amerika Serikat tak membuat Paus Leo XIV tunduk pada Presiden Donald Trump. Belakangan, seturut aksi ilegal Trump menyerang Iran, hubungan keduanya malah kian panas.
Yang terkini, Trump telah melansir unggahan panjang di media sosial yang menargetkan Paus Leo XIV, menyebutnya “buruk dalam kebijakan luar negeri” dan menuduhnya “melayani kelompok kiri radikal”.
Kritik yang tidak biasa terhadap pemimpin gereja Katolik ini menyusul pernyataan Paus Leo, yang mendesak diakhirinya perang dan mengkritik apa yang ia gambarkan sebagai “khayalan kemahakuasaan” yang mendorong perang tersebut dalam kebaktian doa kemarin.
Meskipun dia tidak menyebut nama Trump, pesan tersebut tampaknya ditujukan kepada Trump dan pejabat AS lainnya, yang menyombongkan kekuatan militer AS dan membenarkan perang tersebut dari sudut pandang agama.
“Saya tidak ingin seorang Paus berpikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki Senjata Nuklir,” kecam Trump pada Truth Social. Patut dicatat, bahwa kepemilikan senjata nuklir Iran adalah delusi Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belaka. Iran tak pernah berencana membuat senjata nuklir, hal yang dikuatkan temuan intelijen AS sendiri.
“Leo harus bertindak bersama kami sebagai Paus, menggunakan akal sehat, berhenti melayani kaum Radikal Kiri, dan fokus menjadi Paus Agung, bukan politisi.”
Trump juga mengklaim bahwa Paus Leo, yang menjadi Paus pertama yang lahir di AS, berutang posisi kepadanya. Paus Leo "ditempatkan di sana oleh Gereja hanya karena dia orang Amerika, dan mereka pikir itu adalah cara terbaik untuk berurusan dengan Presiden Donald J Trump. Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan," kata Trump.
View this post on Instagram