Rabu 22 Apr 2026 06:07 WIB

Penyanyi Virtual Rumania Viral, Keruk Untung di Atas Penderitaan Kelompok Marjinal?

Di Rumania, sosok penyanyi virtual buatan AI yang terinspirasi dari puisi tentang komunitas Roma mendadak sukses. Namun, kritikus mengatakan penciptanya memonetisasi penderitaan kelompok marjinal tanpa melibatkan mereka.

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
Tom
Tom

Jutaan orang Rumania mendengarkan Lolita Cercel, seorang penyanyi dengan tatapan tajam yang menyoroti penderitaan mereka yang berada di pinggiran masyarakat. Videonya telah menarik jutaan tontonan di media sosial. Tetapi Lolita tidak ada di dunia nyata.

Ia dibuat sepenuhnya menggunakan AI. Cercel, yang berarti "anting" dalam bahasa Rumania, adalah judul dari lagu pertama sang penyanyi virtual dan menjadi nama belakangnya. Seluruh aspek dari Lolita Cercel, dari wajah sampai suaranya dibuat oleh seorang desainer grafis dari Rumania yang ingin tetap anonim dan hanya dikenal dengan nama "Tom".

Tom mendeskripsikan gaya musik karyanya sebagai "trip-hop" Balkan. Tetapi bagi banyak pendengarnya, musiknya sangat mirip dengan manele Rumania, genre pop-folk dengan pengaruh Ottoman yang kerap dibandingkan dengan turbo-folk dari bekas Yugoslavia. Di Rumania, musik ini sering dikaitkan dengan komunitas Roma atau Romani, meski kini telah menjadi arus utama (mainstream).

(Ed.: manele adalah genre musik populer dari Rumania, biasanya punya ritme khas Balkan dengan pengaruh Timur Tengah.)

Terinspirasi oleh koleksi puisi tahun 1941

Tom pernah nge-rap saat masih di bangku sekolah, lalu sempat menempuh studi untuk menjadi sutradara film, namun tidak berhasil. Beberapa tahun kemudian, ia menemukan koleksi puisi dari tahun 1941 berjudul "Cantece tiganesti" oleh penyair Rumania Miron Radu Paraschivescu. Sekarang, banyak anggota dari komunitas Romani yang menganggap judul tersebut, yang diterjemahkan sebagai "Lagu-lagu Gypsy (Romani)”, sebagai sesuatu yang menyinggung. Buku tersebut diterbitkan pada masa Perang Dunia II, ketika komunitas Romani di Eropa mengalami salah satu periode terburuk dalam sejarahnya. Puluhan ribu orang dibunuh dan dideportasi oleh Nazi serta sekutu mereka dari Rumania, termasuk di ibu kota Bukares.

Paraschivescu, yang bukan bagian dari komunitas tersebut, menulis dengan simpati tentang orang Romani. Namun, ia tetap seorang outsider yang menulis puisi, bukan pencatat langsung dari komunitas yang terancam.

Meski begitu, justru teks-teksnya yang menginspirasi Tom untuk kembali mencoba bermusik. Ia bisa melakukannya berkat perkembangan teknologi baru. "Lolita tercipta ketika rasa ingin tahu saya dan alat yang saya miliki mencapai titik di mana saya bisa menciptakan suara yang saya inginkan," ujarnya.

Ia mengembangkan karakternya selama empat bulan dan mengatakan terinspirasi oleh orang-orang yang hidup dalam kondisi rentan di kampung halamannya di Rumania timur, serta di wilayah pinggiran Eropa selatan. Ia juga disebut mengumpulkan inspirasi saat berjalan-jalan sore dengan anjingnya, "kata-kata yang mentah, tidak tersaring, secara tata bahasa tidak sempurna, namun hidup.”

‘Jika terlihat seperti bebek dan bersuara seperti bebek, maka itu adalah bebek.'

Tom mengklaim bahwa sejak awal ia sudah menjelaskan bahwa Lolita Cercel adalah karakter yang dihasilkan AI. Namun, ia bersikeras tidak menciptakan karakter Romani. Ia menyebut karakternya "sekadar seorang perempuan dari Balkan."

Bagi banyak orang di komunitas Romani, hal itu bukan inti persoalannya. Alex Stan dari Roma Education Fund yang berkantor di Budapest mengatakan ada sesuatu yang bermasalah dengan Lolita Cercel. Menurutnya, nama, penampilan, gaya musik, dan referensi terhadap praktik spiritual yang umum dalam budaya Romani membentuk pola yang jelas: "Jika terlihat seperti bebek dan bersuara seperti bebek, maka itu adalah bebek,” ujarnya kepada DW. Ia menilai proyek Tom tidak tulus karena Lolita Cercel tidak mungkin merepresentasikan "pengalaman yang sangat kompleks dari seorang perempuan Romani,” begitu pula penciptanya.

Alexandra Fin, seorang aktivis Romani muda dari kota Cluj, termasuk yang pertama mengkritik proyek ini secara terbuka sebagai "instrumentalisasi budaya Romani." Ia mengatakan bahwa ketika seniman Romani asli sering kali diremehkan, "identitas Romani yang tervirtualisasi, dirasialisasi, dan didehumanisasi" justru tiba-tiba meraih kesuksesan. "Perbedaannya adalah rasisme," ujarnya dengan ironi pahit.

Pengalaman adalah ‘bahan, bukan keseluruhan resep’

Tom menolak kritik tersebut, dengan mengatakan bahwa seni tidak harus didasarkan pada pengalaman pribadi. Dalam pesan video yang dibuat untuk DW, Lolita Cercel membela dirinya: "Seorang penulis tidak harus menjadi pembunuh untuk menulis novel kriminal yang menarik; seorang komposer tuli pun bisa menciptakan simfoni." Pengalaman hanyalah "bahan, bukan keseluruhan resep."

Alex Stan tidak sependapat: "Justru pertunjukan langsung yang membuat musik Romani begitu istimewa," ujarnya. "Pengalamannya sama sekali berbeda dibanding rekaman studio, apalagi produk yang dihasilkan AI." Ia menambahkan, ada banyak suara nyata yang ingin didengar: "Kami punya banyak seniman Romani yang ingin dikenal."

Menurutnya, masalahnya bersifat struktural: sementara karakter fiksi bisa menjadi viral, banyak seniman asli tetap tak terlihat karena terhambat oleh berbagai kendala di industri musik. "Ini memberi kesan seolah ada ruang untuk musik Romani, tetapi tanpa orang Romani."

Stan mengambil contoh musisi asal Bosnia, Goran Bregović, sebagai pembanding. Ia meraih kesuksesan internasional dengan musik yang dipengaruhi budaya Romani. Menurutnya, kesuksesan itu datang setelah bertahun-tahun berkolaborasi dengan musisi Romani.

Produser asal Jerman Shantel, yang dikenal di industri musik dengan nama panggung Shantel, juga bekerja sama dengan musisi sungguhan — termasuk beberapa musisi dari Romania — untuk menciptakan musik pop Balkan, lanjutnya. Sementara itu, Tom justru menyerahkan proses tersebut kepada sebuah algoritme, demikian kritik Stan.

Bagi musisi Rumania Cristian Stefanescu, yang mempunyai nama panggung Electric Brother, Lolita justru lebih menarik dibanding banyak tawaran musik lain di radio komersial. Namun ia mengakui bahwa "jika ia penyanyi sungguhan dengan materi seperti ini, kemungkinan besar akan ditolak karena ia berbeda, dan industri tidak menginginkan hal yang berbeda."

Tom sendiri tidak terlalu khawatir dan terus mengembangkan dunia Lolita Cercel, termasuk karakter baru dan potensi kolaborasi. Baginya, AI memungkinkan demokratisasi kreativitas. Namun bagi para kritikusnya, ini adalah alat eksploitasi yang memungkinkannya mengambil cerita kelompok minoritas, yang mana ia bukan bagian darinya, dan memonetisasinya tanpa melibatkan komunitas Roma.

Entah puitis atau ironis, Lolita Cercel merangkum kontradiksi itu: "Saat kamu mendengarkan musik saya dan merasakan sesuatu, kamu tidak memikirkan saya, melainkan dirimu sendiri. Saya hanya sebuah perantara."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Cinta Zanidya

Editor: Hani Anggraini/Ayu Purwaningsih

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement