Keamanan energi kembali menjadi prioritas mendesak di Uni Eropa (UE), seiring dengan perang di Iran yang memperlihatkan betapa rentannya banyak negara anggota terhadap guncangan pasokan minyak dan gas, meski hal ini telah terjadi saat Rusia mulai melakukan invasi ke Ukraina empat tahun silam.
Krisis ini telah mendorong negara-negara UE meninjau kembali diversifikasi dan ketergantungan energinya, serta memicu kembali diskusi pengembangan tenaga nuklir.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan pada Maret 2026 bahwa keputusan Eropa untuk menjauhi energi nuklir merupakan "kesalahan strategis."
Brussels kini mempertimbangkan pendanaan tambahan untuk energi nuklir dengan memprioritaskan penerapan reaktor nuklir modular berskala kecil (Small Modular Reactor/SMR) di kawasan Eropa, sekitar awal tahun 2030.
Hal ini bahkan memicu perdebatan sengit terutama bagi Jerman, yang telah mematikan semua reaktor nuklirnya. Kanselir Friedrich Merz menyebut penghentian energi nuklir sebagai "kesalahan strategis yang serius", tetapi "tidak dapat dikembalikan." Namun, sekutu politiknya yang juga Perdana Menteri negara bagian Bayern, Markus Söder, justru mengatakan "Inilah era baru energi nuklir" dan berencana membangun SMR di wilayahnya.
"Fokus baru Uni Eropa pada perluasan energi nuklir merupakan respons strategis yang tepat untuk keamanan energi jangka panjang dan iklim di kawasan (Eropa)," kata Henry Preston, juru bicara Asosiasi Nuklir Dunia. Menurutnya energi nuklir memiliki ciri khas yang unik dalam menyediakan listrik yang bersih, aman, dan terukur.
Fokus pada SMR adalah strategi yang keliru
SMR adalah pembangkit listrik tenaga nuklir generasi baru yang umumnya dirancang untuk menghasilkan listrik kurang dari 300 MW, sekitar sepertiga dari kapasitas reaktor konvensional.
Para pendukung SMR berpendapat bahwa pembangkit ini akan lebih murah, lebih cepat, dan lebih aman untuk dioperasikan dibandingkan reaktor nuklir tradisional.
Namun, para kritikus menentang fokus baru Uni Eropa tersebut.
Ini adalah "strategi yang keliru," kata M. V. Ramana, profesor di Universitas British Columbia, yang penelitiannya berfokus pada risiko energi nuklir dan perlucutan senjata.
Ia berargumen, SMR pada akhirnya akan lebih mahal per unit daya dibandingkan reaktor besar tradisional karena kebutuhan bahan dan tenaga kerjanya meningkat secara linier seiring dengan meningkatnya kapasitas daya yang diperlukan.
Luke Haywood, Kepala Bidang Iklim dan Energi di European Environmental Bureau (EEB), mengatakan, "Mengalirkan dana ke nuklir baru, terutama SMR yang belum teruji, tidak akan menyelesaikan masalah energi kita." Ia lantas mengecam nuklir sebagai pengalih perhatian yang mahal, "Pembangunannya terlalu lambat, terlalu mahal, dan terlalu berisiko. SMR bahkan lebih tertinggal: butuh waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, sebelum dapat diterapkan dalam skala besar," tegas Haywood kepada DW.
Apakah energi nuklir dapat berkontribusi pada pasokan listrik dasar?
Untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, negara-negara Uni Eropa telah meningkatkan pemanfaatan tenaga angin dan surya dalam beberapa tahun terakhir.
Sumber energi terbarukan kini memasok hampir setengah dari kebutuhan listrik UE dan sekitar seperempat kebutuhan energi UE.
Namun, para pendukung energi nuklir berpendapat bahwa energi nuklir sangat penting untuk menyediakan pasokan daya dasar yang konsisten atau tingkat minimum listrik yang dibutuhkan selama 24 jam, tidak seperti sumber energi yang tidak kontinu atau sulit diprediksi seperti angin dan matahari.
Malwina Qvist, direktur Program Energi Nuklir di LSM Clean Air Task Force (CATF), mengatakan bahwa energi terbarukan dan pembangkit listrik yang fleksibel tidak cukup untuk mencapai ekonomi nol karbon.
Dia menyoroti bahwa Jerman menghasilkan listrik dari sumber terbarukan jauh lebih banyak daripada Prancis, sekitar 59% dan Prancis 28%. Namun, jaringan listrik Jerman menghasilkan emisi karbon dioksida lebih dari 16 kali lipat.
Hal itu dikarenakan, dalam pemenuhan pasokan listriknya, Jerman menggunakan "Pembangkit non-terbarukan di yang didominasi oleh batu bara dan gas, sedangkan di Prancis, tenaga nuklir menyediakan sekitar 67% listrik dengan emisi karbon mendekati nol," kata Qvist.
Tanpa pasokan listrik bersih dan andal yang rendah karbon, serta tersedia kapan pun, negara-negara tidak terhindarkan untuk kembali mengandalkan bahan bakar fosil, tegas sang ahli.
"Di sinilah SMR berperan. Sebagai bagian dari perangkat tenaga bersih yang andal, desainnya yang modular, biaya awal yang lebih rendah, dan kemampuannya untuk menyediakan panas untuk industri, cocok bagi sektor industri yang sulit mengurangi emisi (karena kebutuhan energi intensifnya)," jelasnya, sembari merujuk pada industri kimia, baja, dan semen, yang membutuhkan panas serta listrik yang kontinu.
Namun, Haywood mengatakan bahwa tenaga nuklir kurang cocok untuk sistem energi yang didominasi oleh tenaga angin dan surya. "Tenaga nuklir bukanlah mitra alami bagi sistem berbasis energi terbarukan."
"Sistem energi modern membutuhkan fleksibilitas, pembangkit yang dapat ditingkatkan, dan dikurangi kapasitasnya, bukan reaktor ekonomis yang harus beroperasi terus-menerus.”
Ramana sependapat dengan Haywood, menekankan pengelolaan sisi permintaan, perluasan penyimpanan baterai, dan pembangkit yang fleksibel untuk menyeimbangkan hasil yang bervariasi dari tenaga surya dan angin.
"Berinvestasi pada SMR atau tenaga nuklir secara umum hanya akan mengalihkan dana dari opsi-opsi yang lebih menjanjikan ini," tegasnya.
Apakah SMR lebih aman daripada reaktor nuklir konvensional?
Masalah keamanan tetap menjadi perhatian utama bagi semua teknologi nuklir, termasuk reaktor nuklir skala kecil. SMR dianggap lebih aman oleh sebagian pihak karena kapasitasnya yang lebih rendah, persediaan bahan bakar nuklir yang lebih sedikit, serta sistem keamanan pasif yang dirancang untuk beroperasi tanpa pasokan listrik eksternal.
Sara Beck, kepala Divisi Penelitian Keamanan organisasi keamanan nuklir Jerman (GRS) menjelaskan sulit baginya untuk memberikan pernyataan secara umum mengenai keamanan SMR karena adanya perbedaan teknis dan konsep yang berbeda antar desain SMR. Alasannya, SMR saat ini tidak memiliki desain standar tunggal, dengan puluhan konsep sedang dikembangkan di seluruh dunia.
Secara global, baru dua proyek SMR yang telah dibangun sejauh ini, satu di Rusia dan satu di Cina, keduanya memiliki desain yang berbeda.
Banyak konsep SMR baru menggunakan "bahan-bahan baru yang memiliki tantangan tersendiri terkait keselamatan," kata Beck kepada DW, seraya menambahkan bahwa, "Penelitian dan pengembangan yang substansial masih diperlukan."
Pakar keselamatan nuklir tersebut juga menyoroti risiko baru penggunaan SMR untuk mendukung kebutuhan industri, "Integrasi SMR dengan aplikasi tambahan, seperti produksi hidrogen, penyediaan panas, atau desalinasi air laut, berpotensi menimbulkan risiko tambahan."
Ramana mengatakan bahwa semua pembangkit nuklir, termasuk SMR, dapat mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kontaminasi radioaktif yang meluas. Ia juga menekankan bahwa, meskipun telah ada pendanaan dan penelitian selama puluhan tahun, metode yang aman dan teruji untuk menangani limbah radioaktif masih belum ditemukan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Muhammad Hanafi