REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Kanada menolak bergabung dengan aliansi Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam perang melawan Iran. Pernyataan ini disampaikan Menteri Luar (Menlu) Negeri Kanada, Anita Anand.
Ia menegaskan, Kanada tidak pernah diberi tahu sebelumnya baik oleh Washington maupun Tel Aviv mengenai serangan udara langsung ke wilayah Iran. Aliansi AS-Israel mulai melancarkan operasi militer ke Negeri Para Mullah pada akhir Februari 2026 lalu.
"Kanada tidak ikut serta dalam operasi militer, dan Kanada tidak berniat terlibat dalam operasi militer ofensif," ujar Menlu Anita Anand dalam konferensi pers virtual dari Turki pada Selasa (17/3/2026).
Ia mengatakan, Kanada tidak mengetahui adanya permintaan dari Presiden AS Donald Trump agar negara-negara anggota NATO bergabung dalam operasi melawan Iran. Ia juga menampik adanya imbauan dari Washington agar anggota NATO lainnya membantu memastikan "kebebasan navigasi" di Selat Hormuz, wilayah perairan yang dikendalikan Iran.
"Sepengetahuan kami, belum ada permintaan yang diajukan ke NATO untuk bantuan tersebut. Sebagai anggota pendiri, Kanada tetap berkomitmen pada pertahanan kolektif dan pencegahan," kata Anand.
Ia menambahkan belum ada pembahasan di antara sekutu NATO terkait mekanisme pemicu tindakan aliansi pertahanan itu.
Ketika ditanya apakah ia telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengenai upaya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, Anand mengatakan belum melakukan komunikasi sejak dimulainya operasi militer AS terhadap Iran.
Sebelumnya, Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan negaranya mendukung serangan AS dan Israel terhadap Iran "dengan penyesalan." Ia juga kemungkinan keterlibatan Kanada dalam konflik tersebut tidak dapat dikesampingkan.
Pada 28 Februari, AS dan Israel mulai menyerang sejumlah target di Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil. Iran kemudian membalasnya dengan menyerang Israel dan target-target militer AS di Timur Tengah.