Ketua Panitia Andilan Kebo, M. Ichwan Ridwan atau Bang Boim mengatakan Andilan Kebo tahun 2026 ini merupakan bentuk pelestarian budaya dan kearifan lokal masyarakat betawi setiap menjelang Idul Fitri.
"Ini merupakan upaya MKB dalam mewarisi budaya orang-orang tua kita yang selalu bergotong royong dan berkolaborasi dalam merayakan Idul Fitri sejak dulu," kata Bang Boim.
Bang Boim menjelaskan setiap tahun, baik di lingkungan kampung maupun jamaah majelis taklim, masyarakat biasa melakukan urunan, patungan, andilan, atau engkowan. Setiap orang dikenakan iuran setiap bulan untuk bersama-sama membeli seekor kerbau yang akan dipotong beberapa hari menjelang Lebaran.
Nantinya, para peserta atau anggota yang ikut andilan atau patungan akan mendapatkan bagian daging, jeroan, dan lainnya secara proporsional sesuai dengan nilai andilan yang mereka berikan.
"Andilan ini mengajarkan kita untuk selalu berkolaborasi dalam menyelesaikan hal-hal di dalam kemasyarakatan termasuk penyediaan daging kerbau untuk dikonsumsi sebagai hidangan saat lebaran," kata Bang Boim.
Menurutnya, hal sederhana seperti itulah yang membuat orang betawi selalu guyub dalam menghadapi berbagai persoalan di Jakarta. Bang Boim mengatakan setiap orang akan mendapatkan hasil sesuai dengan kontribusi yang diberikannya. Ini menunjukkan prinsip keadilan.
"Jadi andilan bukan sekedar motong kebo dan bagi-bagi daging tetapi sarat makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat betawi," kata Bang Boim.
Andilan Kebo Simbol Toleransi
Sekretaris Panitia Pelaksana, Bang Muhidin Muchtar juga menambahkan selain kolaborasi, andilan juga mengajarkan sikap toleransi antar umat beragama. Muhidin menjelaskan sejak dahulu masyarakat Betawi tidak mengonsumsi daging sapi, melainkan daging kerbau.
Hal itu berakar dari sejarah ketika Betawi masih dikenal sebagai Sunda Kelapa dan masyarakatnya masih banyak yang memeluk agama Hindu. Menurutnya, nenek moyang orang Betawi yang telah memeluk Islam saat itu berupaya menjaga perasaan saudara-saudara mereka yang beragama Hindu yang memuliakan sapi.
Karena itu, kerbau dipilih sebagai hewan yang disembelih dalam perayaan Idulfitri di tanah Betawi sebagai bentuk penghormatan dan kearifan dalam menjaga kerukunan. "Ini mengajarkan keluhuran budi orang betawi yang sangat menjaga toleransi dan moderasi dalam beragama. Nilai-nilai ini menjadi penting bagi generasi muda Betawi saat ini untuk terus menjaga Jakarta yang majemuk agar tetap kondusif, aman dan toleran," kata Muhidin.