Sabtu 14 Mar 2026 00:33 WIB

Ada Potensi Hujan Asam, Kemendagri Ingatkan Pengendalian Pencemaran Udara Berbasis Data

Konsentrasi polutan seperti PM10 di sejumlah wilayah masih berada di atas baku mutu.

Sejumlah warga berwisata di kawasan Pantai Marunda, Jakarta, Kamis (1/1/2026). Pantai Marunda menjadi salah satu destinasi wisata murah meriah saat libur panjang Tahun Baru karena biaya masuk yang relatif terjangkau. Pengunjung hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp2.000 untuk menikmati suasana pantai dan berenang di pesisir Kota Jakarta, sehingga lokasi ini menjadi pilihan masyarakat untuk menghabiskan waktu libur bersama sanak saudara tanpa harus bepergian jauh.
Foto: Republika/Prayogi
Sejumlah warga berwisata di kawasan Pantai Marunda, Jakarta, Kamis (1/1/2026). Pantai Marunda menjadi salah satu destinasi wisata murah meriah saat libur panjang Tahun Baru karena biaya masuk yang relatif terjangkau. Pengunjung hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp2.000 untuk menikmati suasana pantai dan berenang di pesisir Kota Jakarta, sehingga lokasi ini menjadi pilihan masyarakat untuk menghabiskan waktu libur bersama sanak saudara tanpa harus bepergian jauh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya pengendalian pencemaran udara yang dilakukan secara terukur, berbasis data, serta didukung kolaborasi antar daerah.

Dia mengingatkan pengalaman krisis pencemaran udara yang terjadi pada 2023, ketika konsentrasi partikel halus berukuran 2,5 mikron (PM2.5) meningkat secara signifikan dan berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat.

Baca Juga

“Kegiatan kita kali ini sifatnya responsif untuk menghadapi situasi yang mungkin saja terjadi kembali setelah memasuki musim kemarau. Jika tidak dikendalikan dengan baik, kita berpotensi menghadapi kembali krisis pencemaran udara seperti yang terjadi pada tahun 2023, ketika konsentrasi partikel berukuran sangat kecil meningkat dan berdampak pada meningkatnya prevalensi penyakit pernapasan hingga potensi terjadinya hujan asam,” ujar Yusharto saat membuka kegiatan Forum Diskusi Aktual (FDA) bertema “Rencana Strategis Kebijakan dan Koordinasi Antar Daerah dalam Pengendalian Krisis Pencemaran Udara: Studi Kasus Krisis Pencemaran Udara Jabodetabek 2023” di Aone Hotel, Jakarta, pada Jumat (13/3/2026).

 

photo
Kepala BKSDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo - (Ist)

Dalam sambutannya, Yusharto menyampaikan, forum ini merupakan langkah responsif untuk mengantisipasi potensi terulangnya krisis pencemaran udara, terutama menjelang musim kemarau setelah berakhirnya musim penghujan. 

Dia menjelaskan, berbagai studi menunjukkan, konsentrasi polutan seperti PM10 di sejumlah wilayah masih berada di atas baku mutu yang ditetapkan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga menimbulkan konsekuensi ekonomi yang tidak kecil, terutama dalam bentuk peningkatan biaya kesehatan serta beban anggaran pemerintah dalam penyediaan layanan dasar.

Lebih lanjut, penelitian juga menunjukkan, pencemaran udara di wilayah aglomerasi Jakarta dan sekitarnya berkontribusi terhadap tingginya prevalensi penyakit pernapasan, penyakit kardiovaskular, serta berbagai dampak kesehatan lainnya. Bahkan, paparan polusi udara disebut berkaitan dengan ribuan kasus kematian dini setiap tahun.

"Fakta-fakta ini Bapak/Ibu sekalian menunjukkan bahwa persoalan kualitas udara bukan hanya isu lingkungan semata tetapi juga berkaitan erat dengan aspek kesehatan publik, produktivitas ekonomi serta kualitas hidup masyarakat yang ada di perkotaan,"kata dia.

photo
Suasana Monas yang tertutup polusi di Jakarta, Jumat (21/6/2024). Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 15.53 WIB, Indeks Kualitas Udara (Air QualityA Index/AQI) di Jakarta berada pada angka 155 yang menempatkannya sebagai kota besar dengan kualitas udara terburuk kedua di dunia di bawah Kinshasa, Kongo. - (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement