Sabtu 03 Oct 2026 18:33 WIB

Indonesia Peringkat Dua TB Dunia, UMI Siapkan Tim Multidisiplin

Penanganan TB membutuhkan ilmu, data, kolaborasi, dan keberanian melampaui klinik.

Siswa mengikuti cek tbc.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Siswa mengikuti cek tbc.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar menyiapkan tim multidisiplin untuk memperkuat Konsorsium Tuberkulosis (TB). Langkah tersebut menjadi bagian dari keterlibatan perguruan tinggi dalam membantu percepatan penanganan TB di Indonesia.

Rektor UMI Prof Dr Hambali Thalib mengatakan penanganan TB membutuhkan pendekatan lintas disiplin. Perguruan tinggi, menurut dia, mempunyai kekuatan melalui integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Baca Juga

“Kami mengapresiasi kepercayaan LLDIKTI IX kepada UMI. Untuk program penuntasan TB ini, UMI siap menerjunkan tim multidisiplin,” ujar Hambali dalam Rapat Koordinasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX di Makassar.

Keterlibatan perguruan tinggi menjadi semakin relevan mengingat besarnya beban TB Indonesia. Laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat sekitar 10,7 juta orang di dunia jatuh sakit akibat TB sepanjang 2024. Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus tersebut, terbesar kedua setelah India yang menyumbang sekitar 25 persen kasus global.

Kementerian Kesehatan memperkirakan terdapat sekitar 1,09 juta kasus TB di Indonesia setiap tahun dengan sekitar 125 ribu kematian. Pada 2024, sekitar 889 ribu kasus telah ternotifikasi, menunjukkan masih adanya jarak antara estimasi jumlah orang yang sakit dan kasus yang berhasil ditemukan serta dilaporkan.

Tantangan tersebut juga dekat dengan Sulawesi Selatan. Kementerian Kesehatan sebelumnya memasukkan Sulawesi Selatan bersama sejumlah provinsi di Jawa dan Sumatra Utara sebagai daerah dengan jumlah kasus tinggi, dengan masing-masing mencatat lebih dari 40 ribu kasus. Kondisi ini membuat keterlibatan perguruan tinggi di kawasan Indonesia timur memiliki arti strategis dalam memperluas deteksi, penelitian, dan intervensi berbasis masyarakat.

Menurut Hambali, Fakultas Kedokteran dapat menjadi leading sector dalam tim tersebut. Namun penanganan TB tidak berhenti pada pendekatan klinis karena Fakultas Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Ekonomi, Teknik, dan disiplin ilmu lainnya juga dapat mengambil peran sesuai bidang keahlian masing-masing.

“Kita harus berbasis data. Apakah faktor utama TB di suatu wilayah murni kesehatan, lingkungan, atau genetik. Inilah wujud nyata UMI sebagai kampus berdampak yang hadir memberi solusi bagi bangsa,” katanya.

TB Bukan Hanya Persoalan Pengobatan

TB merupakan penyakit menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis dan terutama menyerang paru-paru. Penularannya melalui udara membuat kondisi tempat tinggal, kepadatan hunian, ventilasi, perilaku masyarakat, akses pelayanan kesehatan, hingga kondisi sosial ekonomi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari upaya pengendalian penyakit tersebut.

Pendekatan multidisiplin karena itu dapat membantu menjawab persoalan dari berbagai sisi. Fakultas kedokteran dapat menangani aspek klinis dan diagnosis, farmasi dapat mendalami obat dan kepatuhan pengobatan, kesehatan masyarakat mengembangkan pencegahan dan surveilans, sedangkan disiplin teknik dapat mengkaji kualitas lingkungan dan ventilasi permukiman.

Bidang ekonomi dan sosial juga memiliki ruang besar. Pasien TB dapat membutuhkan pengobatan dalam waktu panjang sehingga kehilangan pendapatan, biaya transportasi menuju fasilitas kesehatan, stigma, dan dukungan keluarga dapat memengaruhi keberhasilan pengobatan.

WHO bahkan menempatkan perlindungan masyarakat dari beban ekonomi akibat TB sebagai salah satu bagian penting dalam strategi global mengakhiri epidemi penyakit tersebut.

Hambali menjelaskan pendekatan berbasis data dibutuhkan untuk memahami persoalan TB secara lebih menyeluruh. Hasil pemetaan nantinya dapat menjadi dasar menentukan intervensi yang sesuai dengan karakter wilayah dan masyarakat.

Pemerintah Kejar Eliminasi 2030

Pemerintah Indonesia menargetkan eliminasi TB pada 2030. Salah satu strategi yang diperkuat pada 2026 adalah pelacakan seluruh kontak erat pasien untuk menemukan kemungkinan penularan sedini mungkin.

Kementerian Kesehatan bahkan mendorong investigasi terhadap 100 persen keluarga dan kontak erat pasien TB. Strategi tersebut mengubah pola penanganan dari sekadar menunggu orang sakit datang ke fasilitas kesehatan menjadi secara aktif mendatangi lingkungan tempat kemungkinan penularan terjadi.

Pelacakan itu diperkuat dengan pemanfaatan program Cek Kesehatan Gratis, pemeriksaan menggunakan rontgen portabel, serta tes cepat. Sejak April 2026, Kementerian Kesehatan juga mengintegrasikan data SATUSEHAT IndonesiaKu dengan Sistem Informasi Tuberkulosis untuk meningkatkan penemuan kasus serta kesinambungan tindak lanjut pasien.

Namun persoalan tidak berhenti pada menemukan pasien. Kementerian Kesehatan pada April 2026 masih mencatat tantangan dalam keberhasilan pengobatan, investigasi kontak, serta pemberian terapi pencegahan TB kepada kelompok yang mempunyai risiko tinggi.

Data nasional menunjukkan pada 2024 baru sekitar 19,4 persen kontak serumah yang mendapatkan terapi pencegahan TB. Angka tersebut memperlihatkan masih besarnya ruang yang harus diperkuat agar orang yang telah terpapar tidak berkembang menjadi penderita TB aktif.

 

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi