Kamis 12 Mar 2026 19:45 WIB

Serangan Balasan Iran Picu Krisis Bersejarah Pasar Minyak Global

Produksi minyak mentah turun delapan juta barel per hari.

Kapal kargo berbendera Thailand Mayuree Naree terbakar setelah terkena rudal Iran di Selat Hormuz, Iran, 11 Maret 2026 .
Foto: EPA/ROYAL THAI NAVY
Kapal kargo berbendera Thailand Mayuree Naree terbakar setelah terkena rudal Iran di Selat Hormuz, Iran, 11 Maret 2026 .

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Agresi Amerika Serikat dan Israel serta balasan Iran disebut menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.Hal ini dilaporkan Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan dalam laporan pasar terbarunya.

IEA mengatakan produksi minyak mentah saat ini turun setidaknya delapan juta barel per hari, dengan tambahan dua juta barel per hari yang terkait dengan produk minyak bumi, karena pembatasan pasokan regional oleh Iran memaksa produsen-produsen Teluk untuk memangkas produksinya.

Baca Juga

Lalu lintas melalui Selat Hormuz, yang dilalui oleh seperlima minyak mentah global, telah ditutup di tengah serangan dan ancaman Iran yang menargetkan pengiriman di wilayah tersebut.

Arus yang mengalir melalui selat tersebut bergerak kurang dari 10 persen dari tingkat sebelum krisis, kata IEA, “tidak ada tanda-tanda penurunan eskalasi peperangan atau batas waktu yang jelas untuk pemulihan arus melalui Selat tersebut”.

Inzamam Rashid, reporter The Associated Press, mengatakan ada sekitar 1.000 kapal, termasuk sekitar 200 kapal tanker minyak, berbaris menunggu untuk melewati Selat Hormuz. Ini menjadi sangat “berbahaya” dalam beberapa hari terakhir ketika Iran meningkatkan serangan.

“Saat ini, kita tahu bahwa Selat Hormuz berada dalam kendali militer Iran, artinya kapal apa pun yang mencoba menyeberang akan menjadi sasaran,” kata Rashid. “Kami telah melihat buktinya berulang kali dalam beberapa hari terakhir.”

photo
Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran , 1 Maret 2026. - (EPA/Stringer)

Bahaya ini menyebabkan jumlah minyak yang melewati selat tersebut – yang biasanya berjumlah 20 juta barel per hari – turun drastis, katanya.

“Jumlah tersebut telah dikurangi secara drastis menjadi hanya sekitar 10 persen dari operasi tersebut – dan 10 persen tersebut sebenarnya termasuk Iran yang mengekspor minyak mereka ke negara-negara seperti Tiongkok.”

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement