REPUBLIKA.CO.ID, ISTNBUL - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan terbuka dengan opsi menghabisi Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang baru terpilih. Laporan The Wall Street Journal pada Senin (9/3/2025), Trump menyebut akan mengambil opsi itu jika Mojtaba menolak mematuhi tuntutan Washington.
Hal tersebut diungkapkan Trump secara pribadi kepada asisten-asistennya, menurut laporan harian tersebut. Mengutip pejabat aktif dan mantan pejabat AS, The Wall Street Journal menyebut tuntutan Trump mencakup antara lain pembubaran program nuklir Iran. Harian itu mengatakan, Gedung Putih menolak memberi tanggapan terkait isu tersebut.
Laporan tersebut mencuat usai Trump secara terbuka menyebut penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran adalah "sebuah kesalahan besar" dan ia meragukan kepemimpinan Khamenei akan bertahan lama. Dalam pernyataannya kepada The New York Post, Presiden AS itu juga mengaku "tak senang" dengan hasil pemilihan pemimpin baru Iran itu.
Mojtaba Khamenei (56 tahun) ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran untuk menggantikan sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur dalam gelombang serangan gabungan pertama AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Hingga waktu kematiannya, Ali Khamenei telah memerintah Iran selama 37 tahun.
Sementara Pemerintah China menyebut pemilihan pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, sudah sesuai konstitusi negara tersebut. "Pemilihan pemimpin baru itu adalah keputusan yang dibuat oleh Iran sesuai dengan konstitusi negaranya," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin (9/3/2026).
Lihat postingan ini di Instagram