Senin 02 Mar 2026 15:33 WIB

Serangan Drone Hentikan Operasi Kilang Minyak Raksasa di Saudi

Kilang milik Saudi Aramco di Ras Tanura diserang pesawat nirawak.

ILUSTRASI Ras Tanura
Foto: Wikipedia
ILUSTRASI Ras Tanura

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Operasi kilang minyak bumi Ras Tanura milik Saudi Aramco di Arab Saudi dihentikan sementara usai serangan drone terjadi di kawasan tersebut. Mengutip Bloomberg, Senin (2/3/2026), informasi tersebut dikonfirmasi oleh sejumlah sumber yang mengetahui perkembangan situasi. Bagaimanapun, hingga kini belum ada pengumuman resmi dari perusahaan milik Kerajaan tersebut kepada publik.

Kilang Ras Tanura merupakan salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar di dunia. Berlokasi di pesisir Teluk Arab, fasilitas ini memiliki kapasitas pengolahan hingga 550 ribu barel minyak mentah per hari.

Baca Juga

Penutupan dilakukan pada Senin (2/3/2026) waktu setempat sebagai langkah pencegahan, sembari perusahaan melakukan penilaian terhadap potensi kerusakan akibat serangan.

Bloomberg melaporkan, menurut sumber yang enggan disebutkan namanya, kebakaran sempat terjadi di area lokasi. Namun, kobaran api sudah berhasil dikendalikan.

Hingga kini, kantor media Aramco belum memberikan komentar resmi. Pemerintah Arab Saudi juga belum merespons permintaan keterangan terkait insiden tersebut.

Penghentian operasi di Ras Tanura terjadi di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Teheran kemudian membalas dengan menembakkan ratusan rudal dan drone ke sejumlah negara di kawasan.

Dampak konflik tersebut langsung terasa di pasar energi global. Harga minyak mentah di London melonjak hingga 9,7 persen seiring kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan. Serangan terhadap infrastruktur energi utama dinilai sebagai skenario terburuk bagi pasar minyak, terlebih lalu lintas maritim di Selat Hormuz yang krusial dilaporkan nyaris terhenti akibat eskalasi konflik.

Ras Tanura selama ini menjadi simpul vital dalam rantai pasok energi global. Gangguan operasional di fasilitas tersebut berpotensi memperburuk ketidakpastian pasar dan mendorong volatilitas harga minyak dalam beberapa waktu ke depan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement