REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Prabowo Subianto menargetkan program Makan Bergizi Gratis nihil kesalahan di lapangan. Hal ini ia sampaikan dalam pidato di Indonesia Economic Outlook 2026, Jumat (13/2/2026) sore.
Acara ini selain dihadiri para menteri dan pengusaha, juga ekonomi, akademisi, dan para duta besar. Para menteri dijadwalkan memaparkan program mereka setahun ini. Sebelum pidato Presiden, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sudah berpidato soal perekonomian nasional terkini.
"Kita ingin zero error, itu harus kita capai!" kata Kepala Negara dalam pemaparannya. Presiden Prabowo menyoroti program MBG sebagai prestasi yang membanggakan dari sisi manajemen logistik dan pengendalian mutu. Dalam setahun terakhir program berjalan, MBG sudah membagikan 4,5 miliar porsi makanan ke anak sekolah dan ibu hamil dan ibu menyusui.
Dari jumlah itu, Presiden mengakui bahwa tidak semua berjalan mulus. Memang, Prabowo tidak menyebut kata 'keracunan' dalam pidatonya. Presiden mengatakan, "Kita mengakui terdapat 28 ribu katakanlah penerima manfaat (MBG) yang mengalami gangguan dari makanan itu dengan berbagai sebab. 28 ribu ini sebagian besar tidak perlu dirawat." kata Presiden.
Kepala Negara menegaskan, jumlah itu hanya sebagian kecild dibandingkan dengan 4,5 miliar porsi yang dibagikan setahun. Bahkan Prabowo membacakan statistik dari perbandingan tersebut. "Kalau tidak salah, nol koma nol nol enam. Ini luar biasa karena berarti ini adalah 99 persen dikatakan suatu usaha yang berhasil," kata dia.
Pada Jumat pagi, Presiden meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi milik Polri. Presiden melihat langsung situasi di dapur dan memuji kualitas dapur dan makanan. Saat ini Polri turut memegang lebih dari 1.100 SPPG di seluruh Indonesia.
Total SPPG di seluruh Indonesia berjumlah 23 ribu. Pada tahun lalu SPPG tersebut melayani 60 juta penerima manfaat. Tahun ini akan digenjot sampai 82 juta penerima manfaat MBG dan SPPG mencapai 30 ribu dapur.
Presiden juga membacakan bahwa SPPG di seluruh daerah mempekerjakan lebih dari sejuta orang. Dari tiap SPPG mempekerjakan 50 orang. Setiap SPPG memiliki lima sampai 10 pemasok, setiap pemasok memiliki tiga sampai empat petani yang bekerja.
"Ekonomi di desa hidup! Ini menimbulkan ekonomi dari bawah. Kepala daerah melaporkan bahwa mereka merasakan dinamisme ekonomi di bawah."