Sabtu 07 Feb 2026 07:03 WIB

Indonesia ASRI Dimulai dari Kantor, BSKDN Kurangi Timbulan Sampah

Gerakan ASRI jadi awal untuk membangun kebiasaan berperilaku bersih.

BKSDN mengurangi timbulan sampah
Foto: Ist
BKSDN mengurangi timbulan sampah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Yusharto Huntoyungo menegaskan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) harus dimulai dari lingkungan kerja sebagai bentuk dukungan nyata terhadap program prioritas nasional yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Hal itu disampaikannya pada kegiatan Gerakan Indonesia ASRI di Lingkungan BSKDN, yang digelar di Kantor BSKDN pada Jumat (6/2/2026).

 

Baca Juga

Dalam sambutanya, Yusharto menekankan, gerakan ASRI bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya membangun kesadaran dan kebiasaan hidup bersih yang berkelanjutan. Menurut dia, pemerintah memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi contoh bagi masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, resik, dan indah.

“Ini (Gerakan ASRI) bukan hanya sekadar kegiatan sesaat. Tetapi menjadi awal untuk kita bisa membangun kebiasaan meningkatkan kesadaran kita untuk bisa berperilaku bersih, mulai dari diri kita sendiri, lingkungan keluarga sampai dengan lingkungan tempat kerja kita," tegasnya.

Dia menjelaskan, salah satu fokus utama program ASRI adalah mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih melalui pengurangan timbulan dan timbunan sampah. Presiden, lanjutnya, menaruh perhatian serius terhadap isu kebersihan lingkungan sebagai bagian dari wajah Indonesia di mata dunia.

“Presiden mendorong kita  untuk berada dalam lingkungan yang lebih bersih dengan mengurangi timbulan dan timbunan sampah. Mengingat banyak kejadian di antaranya Presiden mendapati informasi kolega beliau di luar negeri mengatakan, kok Indonesia tidak seindah sebagaimana yang diterangkan, ini tentu menjadi pengingat bagi kita semua," ujar dia.

photo
Peneliti mengambil sampel air Sungai Brantas dengan latar tumpukan sampah plastik saat penelitian mikroplastik di Dinoyo, Malang, Jawa Timur, Sabtu (24/1/2026). Penelitian yang dilakukan tim Universitas Brawijaya di puluhan titik Sungai Brantas dari hulu hingga hilir tersebut menemukan kandungan mikroplastik dengan konsentrasi berkisar antara 2 hingga 40 partikel per liter air, sehingga peneliti merekomendasikan pemerintah dan para pemangku kebijakan untuk menetapkan standar baku mutu pencemaran mikroplastik guna melindungi kualitas air karena dikhawatirkan akan berdampak pada kesehatan masyarakat. - (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement