REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Di tengah merebaknya isu dirinya melarikan diri ke Rusia atau bersembunyi di bunker, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei muncul memberikan pidato kepada publik di Teheran, Ahad (1/1/2026). Dalam pidatonya itu, Khamenei memperingatkan jika Amerika Serikat (AS) memulai perang dengan negaranya, ketegangan berpotensi mengalami eskalasi hingga menjadi konflik di tingkat kawasan.
"AS harus tahu kalau mereka memulai perang, kali ini yang akan terjadi adalah sebuah perang regional," kata Ali Khamenei pada Ahad, sebagaimana dikutip kantor berita Tasnim.
Khamenei muncul dalam perayaan kembalinya pendiri Republik Islam Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini dari pengasingan di Prancis pada 1979 yang berujung pada revolusi Iran yang menggulingkan Mohammad Reza Shah Pahlavi. Dalam pidatonya, Khamenei mengatakan, AS ingin 'melahap' Iran dan kekayaan alam berupa minyak dan gas bumi, sambil menambahkan, apa yang terjadi pada aksi massa antipemerintah sebulan lalu, "sama dengan sebuah kudeta" lantara sejumlah orang serentak menyerang dan merusak gedung pemerintahan, bank, dan masjid.
Khamenei menilai, demonstrasi berujung kerusuhan itu sebagai "penghasutan", istilah yang kerap digunakannya merujuk pada Pergerakan Hijau pada 2009 dan aksi massa lain di Iran.
"Penghasutan terbaru sama dengan sebuah kudeta. Tentunya, kudeta itu bisa dicegah," kata Khamenei.
"Tujuan mereka adalah menghancurkan kantor-kantor pusat sensitif dan efektif yang menjalankan roda pemerintahan, dan untuk alasan ini, mereka menyerang polisi,kantor pemerintah, fasilitas IRGC, bank-bank, dan masjid dan membakar Al Quran."
Tak lama setelah pidato Khamenei, Presiden AS Donald Trump merespons dengan berharap Iran akan menyetujui sebuah kesepakatan. Ditanya wartawan soal peringatan dari Khamenei soal perang regional, Trump menjawab, "Tentu dia akan bilang seperti itu."
"Sangat diharapkan kami bisa mencapai kesepakatan. Jika kami tidak mencapai kesepakatan, lalu kita akan mengetahui apakah pernyataan di (Khamenei) benar atau tidak," kata Trump.
Pada Sabtu pekan lalu, Wall Street Journal, mengutip sumber, melaporkan bahwa Pentagon dan Gedung Putih telah menyampaikan rancangan rencana dan skenario yang dibuat bersama terkait serangan militer terhadap Iran. Opsi yang tersedia dilaporkan mencakup "rencana besar" yang meliputi serangan besar-besaran terhadap institusi pemerintah serta fasilitas milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam rangka operasi pengeboman berskala besar.
Sementara, opsi operasi dengan lingkup yang lebih kecil mencakup serangan terhadap target-target pemerintah yang memiliki nilai simbolis. Namun, langkah ini akan membuka ruang untuk eskalasi apabila Iran menolak kesepakatan.
View this post on Instagram