REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nurmalasari, Ketua LPPP Universitas Nusa Mandiri
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah wajah pendidikan tinggi secara signifikan. Teknologi ini tidak lagi hadir sebagai wacana futuristik, tetapi telah menjadi bagian dari aktivitas akademik sehari-hari mahasiswa. Mulai dari mencari referensi, menyusun tugas, hingga mengolah data penelitian, AI kini berada di ruang belajar yang sama dengan dosen dan mahasiswa.
Fenomena ini menandai satu hal penting: teknologi tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan telah menyatu dalam ekosistem pembelajaran. Di satu sisi, AI menawarkan kemudahan yang luar biasa.
Akses informasi menjadi lebih cepat, pembelajaran bisa lebih personal, dan efisiensi akademik meningkat drastis. Bagi sebagian mahasiswa, AI bahkan dianggap sebagai “penyelamat” di tengah beban tugas dan tuntutan akademik yang semakin kompleks.
Sebagai Ketua Lembaga Penjaminan dan Pengembangan Pembelajaran (LPPP) di Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang memposisikan diri sebagai Kampus Digital Bisnis, saya melihat bahwa di balik kemudahan itu tersimpan persoalan mendasar yang tidak boleh diabaikan.
Ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi menggeser esensi pendidikan tinggi itu sendiri. Jika mahasiswa terlalu sering menyerahkan proses berpikir kepada mesin, maka ruang untuk melatih nalar kritis, kreativitas, dan refleksi intelektual justru semakin menyempit.
Pendidikan tinggi sejatinya bukan hanya soal hasil akhir berupa jawaban atau tugas yang selesai tepat waktu. Ia adalah proses pembentukan cara berpikir. Mahasiswa belajar bukan semata untuk tahu, tetapi untuk memahami, mempertanyakan, menganalisis, dan menyimpulkan secara mandiri.
Ketika AI digunakan tanpa kesadaran kritis, proses ini terancam terpotong. Mahasiswa mungkin memperoleh jawaban, tetapi kehilangan pengalaman berpikir.
Di lingkungan Kampus Digital Bisnis seperti UNM, tantangan ini justru menjadi semakin relevan. Kami mendorong pemanfaatan teknologi, termasuk AI, tetapi sekaligus menegaskan bahwa teknologi harus memperkuat kualitas pembelajaran, bukan menggantikannya. AI seharusnya membantu mahasiswa berpikir lebih dalam, bukan berpikir lebih sedikit.
Isu ini tidak hanya menjadi perbincangan di ruang akademik, tetapi juga mengemuka di ruang publik. Diskusi tentang dampak AI terhadap kemampuan berpikir kritis ramai diperbincangkan, termasuk di media internasional dan media sosial.
Sebagian pandangan mengingatkan bahwa kemampuan berpikir manusia bersifat aktif dan perlu terus dilatih. Seperti otot, ia akan melemah jika jarang digunakan. Dalam konteks ini, AI dipandang berisiko “menggantikan kerja otak” jika manusia terlalu sering menyerahkan proses analisis, penulisan, dan penalaran kepada mesin.
Pandangan tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap teknologi, melainkan peringatan. Bahwa teknologi, betapapun canggihnya, tetap harus berada di bawah kendali manusia. Tanpa literasi dan etika yang memadai, AI justru bisa menggerus kapasitas intelektual mahasiswa secara perlahan dan tidak disadari.
Di sisi lain, ada pula pandangan yang lebih optimistis: AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang mampu menggunakan AI secara bijaklah yang akan unggul. Perspektif ini menempatkan persoalan bukan pada ancaman teknologi, melainkan pada kesiapan sumber daya manusia dalam hal literasi digital, tanggung jawab akademik, dan kedewasaan berpikir.
Di UNM sebagai Kampus Digital Bisnis, kami memandang bahwa kunci utamanya bukan memilih antara menolak atau menerima AI, melainkan mengelolanya secara pedagogis dan etis. Mahasiswa perlu dibekali pemahaman bahwa AI adalah tool, bukan shortcut. Ia boleh digunakan untuk eksplorasi, simulasi, dan pengayaan wawasan, tetapi tidak untuk menggantikan proses berpikir kritis dan kejujuran akademik.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan tinggi tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, melainkan oleh seberapa cerdas manusia menggunakannya. AI bisa menjadi peluang besar jika ditempatkan sebagai mitra belajar. Namun, ia bisa menjadi ancaman serius jika menggantikan proses berpikir itu sendiri.
Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi krusial: memastikan bahwa di tengah derasnya arus teknologi, mahasiswa tetap menjadi subjek yang berpikir bukan sekadar pengguna yang menerima hasil.