Sabtu 31 Jan 2026 14:56 WIB

Menbud Fadli Zon Pacu Kerja Sama Budaya dan Repatriasi Benda Bersejarah dengan Belanda

Belanda akan mempercepat repatriasi 37 objek Warisan Budaya Bersifat Kebendaan.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Foto: Republika/Prayogi
Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kebudayaan Fadli Zon memperteguh komitmen kerja sama di bidang kebudayaan, film, arsip, dan repatriasi warisan budaya bersama Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda, Gouke Moes. Pertemuan berlangsung dalam rangka International Film Festival Rotterdam (IFFR), Sabtu.

Fadli menekankan pentingnya pemanfaatan arsip Belanda terkait sejarah Indonesia. Pemerintah Belanda menyambut baik kerja sama ini, yang diharapkan melibatkan institusi seperti Eye Film Museum dan KITLV, dengan pendekatan etis dan inklusif.

Baca Juga

Dalam bidang perfilman, Fadli mengapresiasi perhatian IFFR terhadap sinema Indonesia dan mengusulkan penyelenggaraan “Indonesia Focus” pada edisi mendatang. Kedua pihak juga berkomitmen melanjutkan Perjanjian Kerja Sama Ko-produksi Audiovisual Indonesia–Belanda yang ditandatangani 4 Desember 2024, yang kini dalam proses ratifikasi.

Talenta perfilman dikembangkan melalui SAMASAMA Lab, inisiatif bersama Netherlands Film Fund, Manajemen Talenta Nasional Kemendbud RI, dan APROFI. “Program ini dirancang untuk membangun ekosistem kreatif lintas negara yang berkelanjutan,” ujar Fadli.

Fadli juga mendorong pemerintah Belanda mempercepat repatriasi 37 objek Warisan Budaya Bersifat Kebendaan yang telah direkomendasikan Colonial Collections Committee. Ia mengusulkan repatriasi koleksi Raden Saleh dari Museum Naturalis sebagai upaya pemulihan sejarah seni dan identitas budaya Indonesia.

Selain itu, Fadli meminta dukungan Belanda untuk pencalonan Indonesia sebagai Anggota Komite Antar-Pemerintah UNESCO pada Juni mendatang.

Pertemuan ini menegaskan komitmen kedua negara membangun hubungan budaya yang setara dan berorientasi masa depan, dengan kebudayaan sebagai jembatan dialog dan keadilan sejarah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement