Sabtu 31 Jan 2026 09:23 WIB

Warga Minta RDF Rorotan Ditutup, Pramono: Problemnya Lebih Rumit Lagi

Mudah-mudahan ini bisa mengatasi persoalan transportasi sampah yang ada di Rorotan.

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Erik Purnama Putra
Pekerja berjalan di Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, Jakarta, Selasa (25/3/2025). Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta berkomitmen untuk terus meningkatkan pengelolaan RDF agar lebih ramah lingkungan dan tidak menimbulkan dampak bagi warga sekitar. Saat ini sisa sampah yang ada di bunker RDF Plant Rorotan itu telah diangkut ke TPS Bantargebang Bekasi serta dan beberapa langkah telah dilakukan, termasuk penambahan deodorizer untuk mengurangi bau tidak sedap serta penanganan kesehatan bagi warga sekitar yang terdampak operasional RDF.
Foto: Republika/Prayogi
Pekerja berjalan di Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, Jakarta, Selasa (25/3/2025). Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta berkomitmen untuk terus meningkatkan pengelolaan RDF agar lebih ramah lingkungan dan tidak menimbulkan dampak bagi warga sekitar. Saat ini sisa sampah yang ada di bunker RDF Plant Rorotan itu telah diangkut ke TPS Bantargebang Bekasi serta dan beberapa langkah telah dilakukan, termasuk penambahan deodorizer untuk mengurangi bau tidak sedap serta penanganan kesehatan bagi warga sekitar yang terdampak operasional RDF.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo diprotes warga soal keberadaan tempat pengelolaan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Jakarta di Rorotan, Jakarta Utara, Jumat (30/1/2026). Warga itu meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menutup tempat tersebut. 

Pramono menjelaskan, masalah utama RDF Rorotan belum beroperasi hingga saat ini adalah karena armada angkutan sampah yang ada belum memadai. Alhasil, pengangkutan sampah yang dibawa ke RDF Rorotan menghasilkan air lindi yang menyebabkan bau tidak sedap.

Baca Juga

"Jadi yang untuk RDF Rorotan memang problem utamanya adalah angkutan. Jadi sekarang ini begitu angkutan dilakukan, ada air lindinya jatuh, netes-netes, inilah yang kemudian menyebabkan protes masyarakat," kata Pramono di kawasan Rorotan, Jakarta Utara, Jumat.

Dia mengatakan, proses persiapan untuk mengoperasikan atau commissioning telah dilakukan berulang kali di RDF Rorotan. Pramono mengeklaim, commissioning yang menggunakan sampah hingga 500 ton per hari di RDF Rorotan tidak menimbulkan bau. 

"Masalahnya adalah transportasi dan untuk itu saya sudah minta untuk dilakukan perbaikan," kata Pramono.

Dia menjelaskan, Pemprov DKI sudah melakukan pengadaan truk pengangkut sampah pada 2025. Dengan truk compactor yang baru itu, masalah air lindi yang menetes disebut tidak akan lagi menjadi persoalan. 

"Yang lama saya tidak izinkan untuk digunakan, dan mudah-mudahan, untuk sementara ini saya minta untuk disetop. Mudah-mudahan ini akan bisa mengatasi persoalan transportasi sampah yang ada di Rorotan ini," ucap Pramono.

Di tengah-tengah penjelasan Pramono, seorang warga tiba-tiba warga menyela bahwa selama ini banyak yang terdampak akibat uji coba yang dilakukan di RDF Rorotan. Menurut warga itu, banyak warga yang sakit dan terganggu mentalnya akibat operasional RDF Rorotan. 

"Kami minta RDF itu ditutup Pak, karena dari awal, Pak, saya saya ngomong," kata warga sambil menangis.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement