Jumat 30 Jan 2026 11:26 WIB

Belajar di Prodi Informatika Bukan Sekadar Kode, tapi Cara Berpikir Hadapi Masalah

Mahasiswa tidak diposisikan sebagai pendengar pasif tetapi diajak berargumentasi.

Di Prodi Informatika UBSI kampus Cikampek, mahasiswa dilatih untuk memahami masalah sebelum sibuk mencari solusi.
Foto: UBSI
Di Prodi Informatika UBSI kampus Cikampek, mahasiswa dilatih untuk memahami masalah sebelum sibuk mencari solusi.

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Perkuliahan di jurusan Informatika sejatinya bukan sekadar tentang duduk di kelas, mencatat kode, lalu mengejar nilai tetapi proses panjang membentuk cara berpikir.

Disanalah mahasiswa perlahan dilatih untuk melihat masalah bukan sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai teka-teki yang bisa diurai dengan logika dan kesabaran.

Di tengah laju teknologi yang nyaris tak memberi waktu untuk bernapas, mahasiswa Informatika dituntut lebih dari sekadar paham teori. Mereka harus terbiasa berpikir analitis, runtut, dan sistematis. Perkuliahan menjadi ruang utama untuk melatih kemampuan itu, sedikit demi sedikit, melalui proses yang sering kali melelahkan, tapi membentuk.

Di Program Studi (Prodi) Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) misalnya, proses tersebut dirancang agar dekat dengan realitas.

Mata kuliah seperti algoritma, pemrograman, dan sistem komputer tidak berdiri sebagai hafalan konsep semata, melainkan sebagai latihan berpikir. Mahasiswa dibiasakan memecah persoalan besar menjadi bagian-bagian kecil yang masuk akal, menguji logika solusi, lalu bertanggung jawab atas hasilnya.

Setiap tugas, setiap error, dan setiap revisi bukan sekadar rintangan akademik. Tapi justru simulasi kecil dari dunia nyata, tempat masalah jarang datang dengan petunjuk lengkap.

Dari situ, mahasiswa belajar satu hal penting: berpikir jernih lebih berharga daripada jawaban cepat. Diskusi di kelas turut memperkaya proses tersebut.

Mahasiswa tidak diposisikan sebagai pendengar pasif, tetapi diajak bertanya, berargumentasi, dan melihat satu persoalan dari berbagai sudut pandang.

Kebiasaan ini menumbuhkan sikap kritis sekaligus rendah hati, dua kualitas yang justru langka di era serba instan.

Kepala Kampus UBSI kampus Cikampek Mohamad Syamsul Aziz, mengatakan, Informatika bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang cara manusia menghadapinya.

“Di Prodi Informatika UBSI kampus Cikampek, mahasiswa kami latih untuk memahami masalah sebelum sibuk mencari solusi. Mereka belajar berpikir logis, sistematis, dan bertanggung jawab. Kemampuan ini akan membuat lulusan tetap relevan, meski teknologi terus berubah,” ujar Aziz dalam keterangan, Jumat (30/1/2026).

Pendekatan ini membuat perkuliahan Informatika tidak berhenti pada ruang kelas. Mahasiswa dilatih berpikir berbasis data, menganalisis sebab-akibat, dan mengevaluasi keputusan.

Pola pikir analitis tersebut menjadi bekal penting, baik saat mereka memasuki dunia kerja, membangun usaha, maupun menghadapi persoalan hidup yang tidak selalu bisa diselesaikan dengan satu baris kode.

Pada akhirnya, kuliah Informatika bukan tentang siapa yang paling cepat menguasai bahasa pemrograman terbaru. Ia tentang siapa yang mampu belajar ulang, beradaptasi, dan berpikir jernih di tengah perubahan.

“Bagi kamu yang sedang mempertimbangkan langkah setelah lulus sekolah, Prodi Informatika UBSI kampus Cikampek, hadir sebagai ruang belajar yang realistis dan relevan. Bukan menjanjikan jalan pintas menuju sukses, tetapi menawarkan proses yang membentuk cara berpikir dan kesiapan menghadapi dunia nyata,” tegasnya.

Informasi mengenai Program Studi Informatika, skema perkuliahan, serta pendaftaran mahasiswa baru dapat diakses melalui kanal resmi UBSI. Mari bertumbuh bersama Kampus Digital Kreatif, karena masa depan tidak dibangun dari keputusan terburu-buru, melainkan dari pilihan sadar untuk belajar dan bertumbuh.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement