REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dedi Saputra, S.Pd, M.Kom, Dosen Prodi Informatika UBSI kampus Pontianak
Di tengah derasnya arus transformasi digital, satu hal menjadi jelas: skill di bidang Informatika bukan lagi sekadar nilai tambah, tapi sudah menjadi kebutuhan utama. Hampir semua sektor mulai dari perbankan, pemerintahan, startup, hingga UMKM, membutuhkan talenta IT yang siap kerja.
Bahkan, pemerintah memproyeksikan Indonesia membutuhkan sekitar 12 juta talenta digital hingga tahun 2030, menunjukkan betapa besarnya peluang kerja di bidang ini. Program Studi Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Pontianak hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Program ini dirancang dengan pendekatan praktis, relevan dengan industri, dan berorientasi pada kesiapan kerja.
Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi langsung praktik membuat aplikasi, sistem informasi, website, hingga memahami teknologi terbaru seperti kecerdasan buatan dan keamanan siber.
Salah satu fakta penting yang memperkuat prospek lulusan Informatika adalah adanya gap besar antara kebutuhan industri dan jumlah talenta siap kerja. Indonesia diperkirakan masih kekurangan sekitar 9 juta tenaga IT hingga 2030, sementara pemenuhan tenaga digital baru mencapai sebagian dari kebutuhan tersebut.
Ini berarti lulusan Informatika yang memiliki kompetensi praktis memiliki peluang kerja yang sangat tinggi. Bahkan, kebutuhan talenta digital nasional diperkirakan mencapai sekitar 600.000 orang per tahun, sedangkan jumlah lulusan yang benar-benar siap kerja masih jauh di bawah angka tersebut. Fakta ini menunjukkan bahwa lulusan dengan skill yang relevan, terutama yang memiliki portofolio nyata, akan lebih mudah terserap oleh industri dibanding bidang lainnya.
Ironisnya, data juga menunjukkan bahwa hanya sekitar 16% lulusan ilmu komputer yang berhasil bekerja sebagai developer atau bidang terkait. Hanya sekitar 1 dari 5 lulusan IT yang benar-benar memenuhi standar industri.
Hal ini bukan karena kurangnya peluang kerja, melainkan karena kurangnya kesiapan praktis. Inilah yang menjadi pembeda program studi yang berorientasi praktik, seperti Prodi Informatika di UBSI.