Senin 12 Jan 2026 05:31 WIB

Trump Incar Minyak Venezuela dan Mineral Greenland di Tengah Krisis Iklim

Satu-satunya jalan yang aman adalah transisi dari bahan bakar fosil.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Muhammad Hafil
Presiden AS Donald Trump
Foto: Tangkapan Layar
Presiden AS Donald Trump

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON -- Di sepuluh hari pertama tahun 2026 pemerintah Presiden Donald Trump sudah meluncurkan serangkaian serangan pada upaya penanggulangan perubahan iklim. AS mundur dari organisasi-organisasi internasional yang bertujuan untuk mengatasi pemanasan global.

Tahun lalu AS juga tidak mengirim delegasi ke Pertemuan Perubahan Iklim PBB (COP30) di Brasil. Meski Negeri Paman Sam merupakan penghasil emisi terbesar kedua di dunia saat ini dan sepanjang sejarah.

Baca Juga

AS juga menghilangkan semua rujukan terhadap bahan bakar fosil di situs Badan Perlindungan Lingkungan (EPA). Sementara Trump mengkritik ledakan pertumbuhan bisnis energi bersih dan mendorong industri bahan bakar fosil. '

CEO Center for International Environmental Law Rebecca Brown mengatakan AS memilih mundur dari upaya penanggulangan perubahan iklim saat permukaan laut dan suhu udara terus naik, serta cuaca ekstrem semakin sering dan intensif.

"Keputusan menarik pendanaan dan mundur dari Kantor PBB untuk Koordinasi Kerja Perubahan Iklim (UNFCCC) tidak menghilangkan kewajiban AS untuk mencegah perubahan iklim dan memulihkan kerusakan iklim, seperti yang sudah ditegaskan Pengadilan Dunia tahun lalu," kata Brown seperti dikutip dari Euronews, Ahad (11/1/2026).

Setelah mencaplok Venezuela dengan menangkap Presiden Nicolas Maduro dan Istrinya, Trump mengungkapkan ketertarikan terhadap cadangan minyak negara itu. Venezuela terbukti memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement