Ahad 30 Nov 2025 20:25 WIB

Lebih dari 1.000 Sekolah Terdampak Banjir Sumatera

Pendataan dilakukan untuk memastikan proses pemulihan dapat berlangsung cepat.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Satria K Yudha
Seorang warga mengabadikan suasana Sekolah Dasar Negeri Teupin Peuraho yang diliburkan akibat banjir di Desa Teupin Peuraho, Arongan Lambalek, Aceh Barat, Aceh, Kamis (27/11/2025).
Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Seorang warga mengabadikan suasana Sekolah Dasar Negeri Teupin Peuraho yang diliburkan akibat banjir di Desa Teupin Peuraho, Arongan Lambalek, Aceh Barat, Aceh, Kamis (27/11/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat lebih dari 1.000 satuan pendidikan terdampak banjir Sumatera. Data per Ahad (30/11/2025) tercatat ada sebanyak 1.009 sekolah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami gangguan layanan pendidikan akibat bencana tersebut.

Kemendikdasmen menyampaikan bahwa pendataan dilakukan untuk memastikan proses pemulihan dapat berlangsung cepat dan kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan bagi para siswa di wilayah terdampak.

Baca Juga

Di Aceh, terdapat 310 satuan pendidikan terdampak yang terdiri atas 57 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), 91 Sekolah Dasar (SD), 55 Sekolah Menengah Pertama (SMP), 65 Sekolah Menengah Atas (SMA), 34 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), satu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat/Sanggar Kegiatan Belajar (PKBM/SKB), dan tujuh Sekolah Luar Biasa (SLB).

Di Sumatera Utara tercatat 385 sekolah terdampak, dan di Sumatra Barat sebanyak 314 sekolah. “Kami ada persediaan bantuan Kemendikdasmen dalam situasi darurat pemulihan,” kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dalam keterangannya, Ahad.

Bantuan yang disiapkan meliputi 126 unit tenda ruang kelas darurat, 10.200 paket perlengkapan belajar, bantuan peningkatan mutu pembelajaran senilai Rp25 juta per voucher, bantuan keuangan, serta 20 paket Bantuan Operasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Kemendikdasmen juga menyediakan dua paket dukungan psikososial senilai Rp50 juta per paket untuk warga sekolah di daerah terdampak.

Selain itu, kementerian menyiapkan 20.000 eksemplar buku teks, 15.000 buku nonteks, dan pengadaan tambahan 50.000 buku teks maupun nonteks. “Keenam adalah program revitalisasi tahun 2026 yang diprioritaskan untuk daerah terdampak bencana,” ujar Mu’ti.

Kemendikdasmen juga mendata kebutuhan tenda darurat, perlengkapan sekolah, serta membentuk grup koordinasi per provinsi yang melibatkan mitra untuk mempercepat respons.

Upaya mitigasi turut dilakukan agar proses pembelajaran tetap dapat berlangsung, termasuk menyiapkan dukungan psikososial dan paket bantuan uang bagi satuan pendidikan yang membutuhkan.

“Kami sudah melakukan mitigasi dan melakukan pemetaan, tidak hanya Aceh dan Sumatra Utara, tetapi juga di beberapa tempat di Jawa Timur, dan Jawa Tengah,” kata Mu’ti. Sebagai langkah cepat, tenda-tenda belajar darurat telah didirikan di sejumlah lokasi yang terdampak.

Mu’ti menambahkan bahwa pemerintah telah mengalokasikan lebih dari Rp4 miliar untuk tahap pertama tanggap darurat. Pendanaan ini diarahkan untuk mempercepat pemulihan aktivitas pendidikan di daerah yang paling parah terdampak banjir.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement