Jumat 23 Jan 2026 22:44 WIB

Aktivis 98 Haris Rusly Moti Apresiasi Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Tambang di Sumatera Aceh

Pencabutan izin 28 perusahaan tambang dinilai tepat.

Salah satu pencetus 98 Resolution Network, Haris Rusly Moti.
Foto: Dok Istimewa
Salah satu pencetus 98 Resolution Network, Haris Rusly Moti.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Langkah tegas Presiden Prabowo Subianto mencabut izin 28 perusahaan yang menjadi penyebab banjir dan longsor di Sumatera dan Aceh diapresiasi dan disebut mengagetkan.

Di antara izin perusahaan yang dicabut tersebut adalah emiten PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) dan pengelola Tambang Emas Martabe PT Agincourt Resources.

Baca Juga

“Sebagai seorang aktivis, saya sendiri terkejut dan terhentak. Saya tidak menduga, Presiden Prabowo bisa setegas dan seberani seperti ini dalam menghadapi raksas kapital," ujar salah satu pencetus 98 Resolution Network, Haris Rusly Moti, dalam keterangannya kepada media, Jumat (23/1/2025) di Jakarta.

“Kami pikir kebijakan tegas dan berani Presiden Prabowo tersebut di luar dari perkiraan semua pihak, baik para pengusaha serakahnomic maupun aktivis gerakan sosial, aktivis lingkungan dan advokasi tambang," kata Haris.

Menurutnya, sangat mengejutkan kita semua ketika Perintah Presiden Prabowo, untuk mencabut dan menindak tegas izin 28 perusahaan perusak hutan dan lingkungan. Terutama di tiga daerah bencana sumatera dan Aceh.

"Kebijakan tersebut ibarat petir di siang bolong, atau semacam gempa 9 skala richter yang mengguncang sumber penguasa kapital di negeri ini," tegas Haris.

Dia juga menjelaskan, sumber utama kapital yang membentuk kekayaan berlimpah segelintir oligarki serakahnomic di negeri ini adalah penguasaannya. Terhadap jutaan hektar lahan dan kawasan hutan yang diperoleh baik secara legal maupun ilegal.

"Mereka kaya raya bukan karena hasil inovasi dan industrialisasi, tapi karena keserakahan mereka menguasai jutaan hektare lahan” imbuh Haris.

Dirinya menilai kebijakan Presiden Prabowo dalam menertibkan kawasan lahan dan hutan, telah melampaui tuntutan aktivis gerakan sosial. Terutama sepanjang era Orde Baru hingga era reformasi.

"Mestinya tugas gerakan sosial, aktivis lingkungan dan advokasi tambang saat ini adalah memberikan dukungan kritis kepada Presiden Prabowo" ungkapnya.

Haris menceritakan, keadaan ketika berlangsung bencana tiga daerah wilayah Sumatera dan Aceh. Ketika itu beragam serangan dari konten kreator, berita hoax dan disinformasi diviralkan secara masif di medsos yang ditujukan untuk menyudutkan pemerintahan Prabowo.

photo
Bangunan masjid Pesantren Darul Mukhlisin yang dikepung oleh tumpukan kayu gelondongan di Desa Menanggini, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (19/12/2025). Tumpukan gelondongan kayu masih mengepung area Pesantren Darul Mukhlisin setelah 23 hari bencana banjir bandang menimpa kawasan tersebut. Warga berharap ribuan kayu gelondongan tersebut segera dibersihkan agar aktivitas warga dan pesantren tidak terhambat. - (Republika/Thoudy Badai)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement