REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG, – Bentrok terjadi antara massa mahasiswa, pengemudi ojek online, dan pelajar dengan aparat kepolisian di depan Mapolres Karawang, Jumat sore. Unjuk rasa yang awalnya damai berubah rusuh setelah terjadi blokade jalan raya Surotokunto.
Ketegangan meningkat saat para pengunjuk rasa menggoyang pagar gerbang Mapolres Karawang dan melempar batu serta kayu ke arah petugas sambil meneriakkan kata-kata kasar. Ketika pagar gerbang utama ambruk, polisi berusaha memukul mundur pengunjuk rasa menggunakan gas air mata.
Meskipun sempat berlarian, para demonstran tidak sepenuhnya bubar. Mereka kembali mendekati gerbang utama dan melempar benda-benda ke arah polisi, yang dibalas dengan tembakan gas air mata. Beberapa orang, baik dari pihak pengunjuk rasa maupun polisi, mengalami luka-luka, bahkan seorang anggota polisi harus dilarikan ke rumah sakit.
Situasi sedikit mereda setelah dialog antara polisi dan koordinator aksi. Kapolres Karawang, AKBP Fiki Novian Ardiansyah, menyatakan terpaksa memukul mundur pengunjuk rasa karena tindakan mereka yang anarkis. Ia juga meminta maaf dan siap menanggung biaya perawatan korban luka dari pihak pengunjuk rasa.
Namun, beberapa demonstran tetap tidak menerima alasan tersebut, terutama terkait penggunaan gas air mata. Unjuk rasa yang sempat memblokir jalan utama menyebabkan kemacetan panjang dan berakhir setelah seluruh peserta aksi yang ditahan dilepaskan, menjelang waktu shalat Maghrib.
Para pengunjuk rasa menyampaikan tiga tuntutan utama: penanganan hukum kasus kematian driver ojek online, pembatalan tunjangan DPR, dan penjelasan terkait penangkapan 49 siswa yang diamankan saat hendak berdemo di Jakarta.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.