Jumat 04 Apr 2025 14:14 WIB

PBB Kirim Sejumlah Pejabat ke Myanmar Bantu Penanganan Gempa

Komunitas internasional didesak mengirimkan lebih banyak bantuan.

Rep: Lintar Satria/ Red: Satria K Yudha
Bangunan yang rusak terlihat setelah gempa bumi hari Jumat di Naypyitaw, Myanmar, Kamis, 3 April 2025.
Foto: AP Photo
Bangunan yang rusak terlihat setelah gempa bumi hari Jumat di Naypyitaw, Myanmar, Kamis, 3 April 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, NAYPYITAW -- Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan kepala bantuan kemanusiaan PBB Tom Fletcher akan segera tiba di Myanmar. Ia mendesak komunitas internasional untuk memberikan lebih banyak bantuan untuk negara yang dilanda gempa itu.

Guterres mengatakan perwakilan khusus PBB untuk Myanmar Julie Bishop juga akan berkunjung ke Myanmar dalam beberapa hari ke depan. Kunjungan ini untuk memperkuat komitmen PBB pada perdamaian dan dialog.

Baca Juga

“Dengan musim hujan yang akan segera tiba, gempa bumi menambah penderitaan, saya mengimbau setiap upaya untuk mengubah momen tragis ini menjadi kesempatan bagi rakyat Myanmar," kata Guterres, Jumat (4/4/2025).

Gempa 7,7 skala Richter menjadi gempa terkuat yang mengguncang Myanmar dalam satu abad terakhir. Kekuatan gempa menghancurkan bangunan-bangunan seperti rumah sakit, meratakan pemukiman, dan membuat banyak warga tidak memiliki akses ke makanan, air, dan tempat penampungan.

Gempa berkekuatan 7,7 skala Richter yang terjadi pada Jumat (28/3/2025), merupakan salah satu yang terkuat yang melanda Myanmar dalam satu abad terakhir. Gempa ini menyebabkan lebih dari 3.000 orang tewas, 4.715 terluka dan 341 hilang.

Banyak orang terpaksa berkemah di luar ruangan dalam suhu mencapai 38 derajat Celsius karena takut kembali ke rumah mereka, sementara fasilitas kesehatan di daerah yang terkena dampak mengalami kerusakan parah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan adanya risiko meningkatnya penyakit seperti kolera, terutama di daerah yang paling parah terkena dampak seperti Mandalay dan Naypyitaw. WHO juga menyiapkan bantuan senilai 1 juta dolar AS, termasuk kantong jenazah. Cuaca ekstrem, termasuk hujan yang tidak biasa, diperkirakan akan memperburuk situasi, mengancam upaya bantuan yang sudah sulit.

Di tengah situasi darurat ini, pemimpin junta militer Myanmar, Min Aung Hlaing justru akan melakukan perjalanan ke Bangkok untuk menghadiri pertemuan regional. Sementara itu, junta militer mengumumkan gencatan senjata unilateral selama 20 hari untuk mendukung upaya bantuan setelah gempa, meskipun memperingatkan akan merespons jika terjadi serangan dari pemberontak.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement