REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Uni Eropa (EU) pada Kamis (3/4/2025) merespons pengumuman tarif impor 20 persen yang dikenakan oleh Amerika Serikat. Uni Eropa menyatakan tidak ada pemenang dalam perang dagang.
"Jelas bahwa semua tarif ini akan menaikkan harga bagi konsumen," kata kepala kebijakan luar negeri EU, Kaja Kallas, di sela-sela pertemuan para menteri pertahanan di Polandia.
Dia mengatakan bahwa EU sekarang harus mempertimbangkan cara untuk memperkuat industri pertahanannya sendiri.
"Kami membeli banyak dari Amerika saat ini, tetapi kami perlu mendiversifikasi portofolio sehingga kami memiliki kemampuan untuk memproduksi di sini," kata dia, seraya menambahkan bahwa EU juga akan mencari sekutu lain untuk pasokan senjata.
Negara-negara Eropa telah memasok lebih dari setengah amunisi Ukraina, tetapi menyerukan aksi yang lebih cepat, kata dia.
"Semua ini berjalan dengan sangat baik, ... kita perlu memberikan bantuan ke Ukraina secepat mungkin," kata Kallas.
Dia mengungkapkan harapannya agar pertemuan di Polandia itu mengumumkan lebih banyak bantuan jangka pendek bagi Ukraina.
"Karena semakin kuat mereka (Ukraina) di medan perang, semakin kuat pula posisi mereka di meja perundingan," katanya.
Trump menyatakan kenaikan tarif untuk mendorong industri dalam negeri. Tarif yang dikenakan di masing-masing negara berbeda-beda.
Sementara itu Gedung Putih pada Kamis (3/4) membela keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengecualikan empat negara, termasuk Rusia dan Korea Utara, dari kebijakan tarif impor yang baru.
“Kuba, Belarus, Korea Utara, dan Rusia tidak termasuk dalam Perintah Eksekutif Tarif Resiprokal karena mereka sudah menghadapi tarif yang sangat tinggi dan sanksi yang telah kami jatuhkan sebelumnya menghalangi perdagangan dengan negara-negara itu,” kata seorang pejabat Gedung Putih yang berbicara secara anonim.
Trump, kata dia, baru-baru ini juga mengancam akan menjatuhkan sanksi berat terhadap Rusia.
Pengecualian terhadap Rusia menyulut kecaman di media sosial setelah Trump mengumumkan kebijakan tarif baru pada Rabu. Banyak netizen menuduh dia telah tunduk pada Presiden Rusia Vladimir Putin.
