Rabu 02 Apr 2025 10:31 WIB

Gaza Kelaparan, Israel Bilang Makanan Cukup, PBB: Israel Konyol

Warga Gaza Palestina mengalami kelaparan.

Anak-anak pengungsi Palestina antri untuk menerima porsi makanan dari dapur amal.
Foto: EPA-EFE/HAITHAM IMAD
Anak-anak pengungsi Palestina antri untuk menerima porsi makanan dari dapur amal.

REPUBLIKA.CO.ID, HAMILTON -- Di tengah kondisi kelaparan di Gaza Palestina, Israel terkesan menertawakan penderitaan mereka. Israel mengeklaim stok makanan di Gaza cukup. Padahal orang di sana hidup penuh penderitaan. 

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut klaim Israel soal kecukupan makanan di Jalur Gaza sebagai hal yang “konyol” karena pasokan bantuan kemanusiaan yang ada justru semakin menipis.

Baca Juga

“Hal itu konyol. Maksud saya, kami justru sudah kehabisan pasokan bantuan kami yang tiba melalui jalur kemanusiaan,” kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric dalam sebuah konferensi pers, Selasa.

Menegaskan keparahan situasi yang dihadapi, Dujarric mengatakan bahwa Program Pangan Dunia (WFP) kesulitan mempertahankan operasinya. “Anda tahu, WFP tak akan menutup toko-toko rotinya begitu saja,” kata dia.

Dujarric kemudian membantah pertanyaan soal klaim COGAT (Koordinasi Kegiatan Pemerintah di Teritori) yang dijalankan militer Israel soal masuknya 25.200 truk pembawa bantuan kemanusiaan ke Gaza selama gencatan senjata serta tuduhan bahwa bantuan tersebut diambil Hamas.

“PBB telah menjaga rantai pengawasan yang sangat baik terhadap semua bantuan yang dikirimkan,” ucap jubir PBB itu.

Dujarric lantas menyoroti perbaikan yang terjadi sepanjang gencatan senjata 6 pekan di Gaza dan mengatakan, “Kita melihat bantuan kemanusiaan melimpah di Gaza. Kita melihat pasar-pasar hidup lagi. Kita melihat harga-harga barang mulai turun.”

“Kita juga melihat para sandera dibebaskan. Kita melihat tahanan Palestina dibebaskan. Kita harus kembali ke masa seperti itu,” kata dia, menambahkan.

Serangan udara kejutan yang dilakukan Israel di Jalur Gaza sejak 18 Maret memupuskan kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara pihak Zionis dan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, yang diteken pada Januari lalu.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement