Rabu 25 Mar 2026 15:12 WIB

Mengenang Sosok Raja Arab yang Anti-Israel, Berani 'Menghukum' Amerika

Raja Faisal menginisiasi embargo minyak untuk 'menghukum' negara-negara Barat.

Raja Faisal bin Abdul Aziz
Foto: Wikipedia
Raja Faisal bin Abdul Aziz

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tepat pada hari ini, 51 tahun yang lalu dunia kehilangan seorang pemimpin yang disegani dari Jazirah Arab.

Faisal bin Abdul Aziz al-Saud, raja ketiga dalam sejarah dinasti Arab Saudi, gugur pada 25 Maret 1975 usai ditembak oleh keponakannya sendiri.

Baca Juga

Ayahnya, Abdul Aziz, wafat pada 1953. Semula, Sa’ud selaku putra sulung almarhum hendak diangkat sebagai penerus takhta. Adapun Faisal diberi jabatan perdana menteri. Namun, persaingan kemudian muncul di antara keduanya.

Tampaknya, Sa‘ud sebagai raja kurang suka dengan eksistensi posisi perdana menteri, yang membuat kekuasaannya seolah-olah kurang absolut.

Akhirnya, Faisal terpaksa mengundurkan diri dari posisi perdana menteri pada 1960. Raja Sa’ud lalu mengambil alih kendali langsung atas kabinet.

Namun, ketidakstabilan politik masih saja terjadi. Pada 23 Maret 1964, ulama-ulama Arab Saudi mengeluarkan fatwa yang menyerukan raja Sa’ud agar menyerahkan segala urusan pemerintahan kepada Faisal. Mereka menghendaki bahwa raja "hanya" sebagai simbol persatuan negeri, tanpa kekuasaan eksekutif.

Fatwa itu menuai dukungan para menteri. Akhirnya, sang raja menerima fatwa tersebut.

Naik jadi raja

Pergolakan politik ternyata tak kunjung henti sesudah itu. Pada akhir Oktober 1964, sejumlah pembesar Dinasti Saud beserta para ulama mengeluarkan pernyataan yang lebih keras.

Mereka menyerukan agar Sa’ud turun takhta. Selanjutnya, Faisal didorong naik sebagai raja.

Mulai tanggal 2 November 1964, perubahan itu mewujud sudah. Faisal bin Abdul Aziz al-Saud pun menjadi raja Arab Saudi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement