Ahad 07 Apr 2024 05:47 WIB

Ramadhan dan Perayaan Kebahagiaan

Ukuran kebahagiaan antara tiap manusia tidak mudah diukur dan bisa berubah-ubah.

Nana Sudiana, Sekjend FOZ & Direksi IZI
Foto: dok. Pribadi
Nana Sudiana, Sekjend FOZ & Direksi IZI

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nana Sudiana, Direktur Akademizi dan Associate Expert FOZ

Ramadhan adalah bulan mulia, bulan di mana perintah puasa dilakukan sebulan penuh nan bertabur pahala berlipat ganda. Bulan ini pula bulan di mana umat Islam diminta membuktikan kepedulian-nya secara nyata lewat ajaran zakat, infak dan sedekah bagi sesama.

Bulan ini tak semata soal ibadah seorang hamba dengan Tuhannya agar ia bertaqwa dan berubah lebih baik dari sebelumnya, lebih dari itu, di bulan ini keshalehan sosial betul-betul dibuktikan berjuta umat Islam di dunia. Ajaran Rasulullah yang memberikan inspirasi untuk lebih peduli sesama, banyak bersedekah dan banyak memuliakan dan membantu meringankan beban kehidupan yang diderita sesama, nyata mewujud di mana-mana.

Kebaikan bagi diri sendiri tak cukup. Di bulan ini, ada tambahan pembuktian yang harus kita lakukan bersama, yakni kemanfaatan bagi sesama. Kemanfaatan inilah sejatinya adalah transfer kebaikan, kesyukuran dan kemuliaan jiwa nan bahagia. Saatnya perbaikan jiwa ditingkatkan, saat yang sama, kebahagiaan perlu juga dirayakan dengan membaginya pada sesama.

Bahagia Dengan Kemanfaatan Nyata

Kebahagiaan adalah salah satu hal yang diinginkan setiap manusia, termasuk juga seorang mukmin. Kebahagiaan sendiri memiliki makna yang berbeda-beda pada diri setiap orang. Hal ini tergantung dari tujuan hidup masing-masing manusia-nya. Dengan demikian, ukuran kebahagiaan antara tiap manusia tidak mudah diukur dan bisa berubah-ubah.

Kebahagiaan dalam konsep Islam tidak hanya berkaitan dengan kepuasan jasmani manusia semata, tetapi juga terhubung langsung dengan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT. Kebahagiaan dalam pandangan Islam juga tidak dapat diukur dari banyaknya harta, kekayaan, status sosial, atau kemewahan lainnya.

Bahagia itu justru lahir dari ketenangan hati dan kenyamanan jiwa yang diperoleh seorang hamba karena anugerah dari Allah SWT. Makanya seorang mukmin yang ingin hidup bahagia, salah satu cara meraihnya adalah dengan beribadah sesuai ajaran Allah SWT.

Dalam kitab Nashoihul ‘Ibad, orang yang bahagia menurut pandangan Islam memiliki tiga ciri-ciri, yaitu berhati alim, berperilaku sabar dalam menghadapi cobaan, dan selalu bersyukur dengan apa pun yang dimilikinya. Setiap Muslim yang ingin memperoleh kebahagiaan hakiki dengan cara bersyukur pada-Nya dapat melakukannya dengan beberapa cara. Salah satunya dengan selalu mengingat Allah SWT sebagai dzat yang maha memberi, menciptakan, dan menentukan kebahagiaan pada hamba-Nya.

Selain itu, masih dalam kerangka bersyukur, kita juga senantiasa menerima dengan ikhlas dan lapang dada atas segala nikmat dan rezeki yang telah Allah SWT berikan. Dan tentu saja, saat yang sama kita juga harus  selalu berbuat baik dan menghindari perilaku jahat terhadap sesama.

Puasa Ramadhan selain mendidik kita menguatkan rasa syukur, juga kesempatan untuk merealisasikan rasa syukur ini dengan sekuat tenaga. Mumpung kemuliaan Ramadhan begitu berlimpah dan pahala kebaikannya Allah lipatgandakan.

Menjadi seorang mukmin yang bermanfaat sejatinya adalah jalan kesyukuran yang bisa kita lakukan. Rasulullah saw bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ No: 3289).

Kemanfaatan juga sesungguhnya manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah SWT berfirman: “Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7).

Dari Ibnu 'Umar, Nabi Saw. Bersabda : “Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia”

“Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah : (1). membuat muslim yang lain bahagia, (2). mengangkat kesusahan dari orang lain, (3). membayarkan utangnya, (4). menghilangkan rasa laparnya”

"Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk suatu keperluan lebih aku mencintai daripada beri'tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh." (HR.Thabrani)

Hadits riwayat Ibnu Abbas RA, bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda : "Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah SWT setelah melaksanakan berbagai hal yang wajib adalah menggembirakan muslim yang lain".

Dalam kitab Al 'Athiyyatul Haniyyah dijelaskan "Barang siapa yang membahagiakan orang mukmin lain, Allah Ta'ala menciptakan 70.000 malaikat yang ditugaskan memintakan ampunan baginya sampai hari kiamat sebab ia telah membahagiakan orang lain".

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement